Jumat, 24 April 2026

Aminullah Usman, Wali Kota, Mantan Bankir dan Ikan Asin

Karena ekonomi keluarga ketika itu yang pas-pasan, Aminullah harus menyiasati uang jajan kirimannya. Salah satu caranya adalah membuat ikan asin

Penulis: Yocerizal | Editor: Yocerizal
Serambinews.com
Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, membeli ikan asin di Lhokseudu, Aceh Besar. 

Aminullah Usman, Wali Kota, Mantan Bankir dan Ikan Asin

Laporan Yocerizal | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Ini cerita tentang Aminullah Usman. Wali Kota Banda Aceh yang juga mantan bankir, dan kaitannya dengan ikan asin.

Bagi sebagian warga Aceh, nama dan sosoknya tentu tak asing. Dia menjabat sebagai Direktur Utama Bank Aceh selama 10 tahun.

Wajah tidak hanya sering muncul di media. Tetapi juga banyak terpampang di baliho, hampir di setiap kabupaten/kota.

Sempat hilang beberapa tahun, terutama sejak kalah Pilkada tahun 2012 lalu, kini wajahnya kembali sering muncul menghiasi media.

Wajar, karena Aminullah saat ini menjadi pejabat publik. Mantan bankir itu kini menjadi wali kota, orang nomor satu di Kota Banda Aceh.

Gayanya tentu saja berkelas layaknya pejabat. Karena itu, jangan harap publik bisa menemui Aminullah lagi nongkrong santai di warung kopi.

Baca juga: Bagaimana Hukum Berhubungan Badan Pasutri Malam Takbiran, Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad

Baca juga: Film Terbaru Joni Kapluk, Bang Taleb Ditangkap WH, Tayang Hari Raya Idul Fitri 1442 Pukul 11.00 WIB

Baca juga: Yuk, Intip, Resep Bumbu Membuat Opor Ayam Khas Rumahan, Cocok Disajikan untuk Menu Lebaran

Jika pun ada, mungkin sesekali saat dia ingin mencicipi mi kocok seputaran Masjid Raya Baiturrahman. Atau saat ingin merasakan mi aceh di seputaran Peunanyong.

Di luar itu, masih ada satu tempat publik lainnya yang sering didatangi Aminullah, yaitu Stadion H Dimurthala Lampineung Banda Aceh.

Maklum, Aminullah memang penggemar berat olahraga, terutama sepak bola. 

Mantan Manager Persiraja ini pernah jadi bintang lapangan. Ia dikenal dengan kaki kiri mautnya. Julukannya di lapangan Carlos Usman.

Aminullah juga menjadi contoh sukses, tokoh publik yang berasal dari daerah pedalaman. 

Pria berusia 63 tahun ini lahir di Seuradeuk, Kecamatan Woyla Timur. Sebuah kampung terpencil di Aceh Barat, berada di pelosok yang dikelilingi gunung dan sungai.

Baca juga: Kebakaran Jelang Sahur, 11 Unit Ruko di Simpang Teritit Bener Meriah Rata dengan Tanah

Baca juga: Jalur Gaza Memanas, Hamas Roket Israel, Jet Tempur Gempur Hantam Gedung Tinggi, 28 Orang Tewas

Baca juga: Polisi Israel Bertindak Brutal, Gunakan Granat Setrum ke Demonstran Palestina

Akses jalan ke sana terbilang sulit dan bahkan sampai sekarang belum diaspal. Kabarnya, kondisi itu telah berlangsung sejak Indonesia merdeka.

Karena itu banyak warga yang menyekolahkan anaknya ke tempat yang jauh. Aminullah sendiri harus bersekolah jauh dari rumah.

Dia sejak kecil hidup ngekos di Kecamatan Teunom. Di tempat inilah mantan bankir ini menamatkan sekolahnya, dari jenjang MIN hingga MTsN.

Dia kemudian melanjutkan ke SMEA Meulaboh, dan selanjutnya ke Banda Aceh, kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala.

Karena itu, meski terlihat bergaya kelas atas, Aminullah tetap memiliki sisi khas masyarakat desa. Salah satunya adalah soal selera makanan.

Ya, Aminullah Usman ternyata sangat menyukai ikan asin. Masa kecilnya juga sangat akrab dengan ikan yang diawetkan ini.

Untuk memenuhi seleranya itu, Aminullah sengaja pergi ke Lhokseudu. Desa pinggir laut di Kecamatan Leupung, Aceh Besar, yang memang terkenal sebagai sentra penghasil ikan asin terbaik.

Setahun sekali, Aminullah pasti akan ke Lhokseudu untuk memborong ikan asin. Rutinitas itu selalu dilakukannya di setiap bulan Ramadhan.

Sangking seringnya berkunjung, para pedagang di sana selalu berharap Aminullah datang.

Biasanya, kunjungan ke Lhokseudu ini dilakukan di minggu pertama Ramadhan. Tapi tahun ini, karena kesibukannya yang padat, Bang Carlos baru bisa datang di minggu terakhir.

Biasanya saat ke Lhokseudu, Aminullah akan melepas semua setelan pejabatnya. Dia hanya menggenakan pakaian kasual sederhana. Terkadang menggenakan jeans dan kaos oblong.

Begitu keluar dari pintu mobil, wajah sumringah pedagang langsung menyambut. Salah satunya adalah Lamiyati.

Baca juga: Ucapan Idul Fitri 1442 Hijriah dalam Bahasa Arab Mengandung Doa yang Singkat, Lengkap dengan Artinya

Baca juga: Hasrat Ingin Beli Chip Higgs Domino, Dua Siswa di Aceh Gelap Mata, Tega Rampok dan Bunuh Neneknya

Baca juga: Teknik Melunakkan Daging, Dijamin Empuk tanpa Presto

Bagi perempuan ini, kedatangan Aminullah memang sangat bermakna. Mengingat lesunya pasar akibat pandemi Covid-19, ditambah lagi lebaran yang kian dekat.

"Sepi sekali Pak sekarang. Terutama sejak covid covid ini. Kalau dulu ada tamu dari Malaysia sering singgah," ungkapnya.

"Alhamdulillah Bapak datang. Bapak beli ikan asin ini sudah seperti dapat THR bagi saya," ungkap perempuan pedagang ikan asin itu sambil tersenyum.

Ungkapan Lamiyati itu tidak berlebihan. Aminullah memang selalu membeli ikan asin dalam jumlah banyak, dengan berbagai jenis, mulai dari ikan teri hingga ikan asin dalam ukuran besar.

Ikan asin yang dia beli itu tidak hanya berasal dari satu lapak, tetapi hampir di semua lapak yang berada dalam satu jejeran.

Ia tidak ingin membuat pedagang lainnya merasa sedih.

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, membeli ikan asin di Lhokseudu, Aceh Besar.
Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, membeli ikan asin di Lhokseudu, Aceh Besar. (Serambinews.com)

Pada setiap lapak, Aminullah langsung menunjuk ikan asin yang dia inginkan. Dia terlihat sangat paham tentang ikan asin, mana yang enak dan mana yang tidak.

Aminullah bahkan bisa membedakan, mana produk asli Lhokseudu dan mana yang buatan Medan.

"Lingkungan saya kecil dulu memang akrab dengan ikan asin," ujar Wali Kota Banda Aceh ini.

Aminullah kemudian menceritakan bahwa keakrabannya dengan ikan asin dimulai saat dia tinggal di asrama di Kecamatan Teunom, Aceh Barat.

Karena ekonomi keluarga ketika itu yang pas-pasan, Aminullah harus menyiasati uang jajan kirimannya. Salah satu caranya adalah dengan membuat ikan asin sendiri.

Biasanya dia membuat ikan asin dari ikan meuneng yang tidak dipakai oleh nelayan. 

Baca juga: OKI Puji Keputusan Arab Saudi, Ibadah Haji Tetap Digelar Tahun Ini

Baca juga: Pria Bersenjata Serang Sekolah Menengah di Kazan, Delapan Siswa dan Satu Guru Tewas

Baca juga: Kasus Covid-19 di Aceh Bertambah 100 Orang, Hampir Semua Kabupaten Berstatus Zona Oranye

Ikan itu dikumpulkan oleh abang sepupunya yang juga tinggal satu asrama dengan dirinya.

"Abang sepupu yang mengumpulkan, saya yang buat ikan asinnya," ujar Aminullah mengenang.

Tidak hanya paham membuat ikan asin, Aminullah bahkan punya resep masakan tersendiri. 

Resepnya menggunakan dua bahan sederhana, yaitu cabe rawit dan bawang merah.

"Ikan asin digoreng kering, kemudian cabe rawit potong dua, dan bawang meras diiris, lalu digoreng sampe kering," jelas Aminullah.

"Lalu campur ikan asin itu dengan cabe dan bawang yang digoreng. Bereutoh mangat (luar biasa enaknya)" ungkapnya sambil tertawa.

Baca juga: Seruan Lockdown Nasional di India Terus Bergema, PM Narendra Modi Terus Mendapat Tekanan

Baca juga: Video Kreator TikTok Asal Aceh Ini Bikin Netizen Tertawa karena Lapor Kecelakaan dengan Bahasa Kocak

Baca juga: Pesta Ulang Tahun di Colorado Berubah Jadi Tragedi, Seorang Pria Tembak Enam Orang Bersama Pacarnya

Tak terasa, sudah semua ikan asin yang dia inginkan sudah terkumpul. Aminullah kemudian membayar ikan asin itu pada setiap lapak.

Aminullah tak menyebut berapa total uang yang dia habiskan untuk membeli ikan asin itu. Tetapi perkiraan ada sekitar Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta.

Ikan asin itu dikumpulkan di mobil double cabin yang khusus untuk membawa ikan asin.

Mobil kemudian bergerak pulang ke Banda Aceh, ke rumah pribadinya di Lampaseh. Meninggalkan Lhokseudu dan ceritanya tentang ikan asin.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved