Berita Lhokseumawe
Berpapasan dengan Iringan Reo TNI Saat Awasi Keadaan, Begini Kisah Eks GAM di Hari Pertama DOM Aceh
Terlebih bagi para pihak yang terlibat langsung dalam konflik Aceh tersebut, semisal para mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka atau GAM.
Penulis: Saiful Bahri | Editor: Saifullah
Pagi harinya, cerita Maklan, mereka mengetahui bahwa pasukan TNI mulai masuk dalam skala besar ke kawasan Simpang Keuramat, bahkan juga turut diterjunkan tank.
Baca juga: Terkait MTQ XXXV Tingkat Kota Lhokseumawe, Ini Kata Kepala Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah
Baca juga: UTU dan 16 PTN Buka Jalur Mandiri, Ini Syarat, Jadwal dan Biaya
Baca juga: Lima Terdakwa Kasus Penyelundupan 81 Kg Sabu dan 20 Kg Ekstasi Dituntut Pidana Mati
"Sekitar pukul 10.00 WIB, saya mendapatkan perintah dari komandan untuk melihat situasi di pusat kecamatan,” ungkapnya.
“Sehingga dengan menggunakan sepeda motor tanpa membawa senjata, saya meluncur dari Desa Paya ke pusat kecamatan yang jaraknya sekitar dua kilometer," ujar Maklan.
Setelah memantau beberapa lokasi dari jarak jauh, dirinya pun kembali menuju Desa Paya.
"Saat itulah, saya sempat berpapasan dengan iringan mobil Reo TNI yang menuju pusat kecamatan,” terang Maklan.
“Tapi karena yakin tidak dikenal, maka saya pun langsung melewati secara perlahan-lahan iringan mobil Reo TNI tersebut untuk kembali ke Desa Paya," tukasnya.
Baca juga: Pemerintah Aceh Usulkan 155 Ribu Pelaku Usaha Mikro untuk Dapatkan Bantuan
Baca juga: Dikecam Warga Aceh Singkil, Wanita Muda yang Hina Palestina dalam Video TikTok Minta Maaf
Baca juga: Didampingi LKBH Simeulue, Enam Nelayan Kompresor Mulai Disidang
Dia pun sampai ke tempat rekan-rekanya yang lain dengan selamat.
Pada malam harinya, Maklan bersama sejumlah rekannya pun berpindah menuju lokasi camp di daerah pedalaman Kecamatan Simpang Keuramat.
"Pada malam pertama itu pun saya mendapatkan perintah bersama sejumlah rekan untuk menyerang Pos TNI di Simpang Keuramat. Penyerangan kami lakukan pada tengah malam," kenangnya.
Singkatnya, Maklan bersama rekannya yang selamat terus bergerilya hingga lahirnya perdamaian MoU Helsinky pada 15 Agustus 2005 lalu.
Pedamaian ini pun disambut dengan rasa bahagia oleh para kombatan dan semua masyarakat Aceh.
Baca juga: Tuduh Curi Motor Anak Buahnya, Anggota DPRD Bangkalan Tembak Warga hingga Tewas
Baca juga: VIDEO Dua Dokter Senior Palestina Dirudal Israel Tengah Malam
Baca juga: UPDATE TERBARU CPNS & PPPK 2021, Kemenpan RB Bocorkan Jenis Formasi yang Paling Banyak Dibutuhkan
Maklan pun mengharapkan agar Aceh selalu damai dan masyarakat Aceh bisa sejahtera.
"Serta butir-butir MoU Helsinky bisa terealisasi semuanya," demikian harapan Maklan.(*)