Opini
Kalkulasi Politik Rasional Partai Islam
Upaya mengisi ruang reformasi politik di tanah air, sebagian elit masyarakat dan politik kita sekarang sedang berpikir keras tentang bagaiman
Partai ini mengklaim sebagai representasi dari kepentingan kelompok Islam di pentas politik nasional.
Namun di pentas politik nasional PAS belum memproleh suara terbanyak dalam setiap Pemilu yang diadakan di Negara tersebut.
Akan tetapi kehadiran PAS ini punya arti tersendiri bagi politik Malaysia.
Berbeda dengan Turki, Mesir, Al-Jazair dan Indonesia, PAS di Malaysia yang berasaskan Islam diterima kelompok-kelompok politik lain dan relatif tidak menimbulkan instabilitas nasional.
Demokrasi Malaysia adalah yang paling stabil dibanding dengan demokrasi di negara-negara muslim lain di dunia.
Kenyataan ini tentu merupakan potret yang tidak menyenangkan bagi para politisi Islam yang mengklaim partai Islam di negara berpenduduk mayoritas muslim bisa keluar sebagai pemenang mayoritas dalam suatu Pemilu demokratis.
Buktinya di Indonesia yang mayoritas Muslim dalam pemilu yang telah berlangsung dalam beberapa dekade terakhir.
Pendeknya, belum ada partai-partai Islam yang cukup berhasil di pentas politik nasional dan membentuk suatu pemerintahan.
Dari realita ini timbul pertanyaan di benak kita, mengapa partai-partai Islam di negara-negara Muslim kurang mempunyai daya akseptibilitas, sementara partai-partai demokrasi berhaluan Kristen di sejumlah negara barat mempunyai daya akseptibilitas yang tinggi dan sering unggul di pentas politik nasional mereka masing-masing? Sebuah penjelasan klasik mungkin masih relevan untuk menjawab pertanyaan ini.
Salah satu faktor yang barangkali bertanggung jawab atas perbedaan daya akseptibitas antara partai Islam dengan partai berhaluan Kristen mungkin adalah tingkat dan derjat sekularisasi yang berbeda di dua bagian dunia ini.
Di negara-negara Muslim, sekularisasi sering berdampingan dengan pembangunan yang berdampak negatif terhadap kesejahteraan rakyat banyak, dengan terkonsentrasinya hasil-hasil pembangunan kepada elit-elit kekuasaan dan dengan munculnya pemerintahan yang otoritarian dan korup.
Keadaan itu membuka peluang bagi aktivis Islam untuk mempertanyakan signifikasi sekularisasi di negara mereka masing-masing.
Karena itu, aspirasi para politisi Islam tidak bisa dipisahkan dengan kegagalan rezim sekuler di negara-negara muslim dalam memenuhi harapan-harapan publik mereka.
Malaysia merupakan contoh yang baik untuk ini, partai PAS terus-menerus berada di pinggiran, hanya popular di negara bagian Kelantan.
Karena pemerintah Malaysia di bawah UMNO (United Malays National Organization) relatif sukses melakukan pembangunan bagi kesejahteraan rakyat banyak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-h-munawar-a-djalil-ma_20170527_142939.jpg)