Opini
Politik Santun; Sebuah Jawaban Perbaikan
Mengawali tahun 2022, seyogyanya kita awali dengan kembali merenung; menilik; mencermati diri kita terhadap sikap dan perbuatan yang telah terlewati
Oleh Muslim, S. HI, MM, Penulis adalah Ketua DPD Demokrat Aceh dan Aggota DPR RI Dapil Aceh 2
Mengawali tahun 2022, seyogyanya kita awali dengan kembali merenung; menilik; mencermati diri kita terhadap sikap dan perbuatan yang telah terlewati di tahun 2021, apakah kita telah bisa menjadi obat atau malah sebaliknya.
Apakah kita ikut serta berkontribusi positif untuk perbaikan politik bangsa.
Refleksi semacam ini, menjadi kebutuhan nyata untuk menentukan perbaikan di masa-masa mendatang.
Dari berbagai aspek yang butuh dievaluasi adalah apakah kita sudah bepolitik secara santun, tanpa menghilangkan sisi-sisi keberpihakan kepada kebenaran.
Berpolitik secara santun sebenarnya menjadi ciri khas politik bangsa kita.
Sebab bangsa Indonesia telah terkenal dengan budaya ramah-tamahnya, budaya timur dan berpegang teguh pada agama, terlebih lagi ajaran Islam yang menjadi agama mayoritas bangsa Indonesia.
Santun dalam politik, sebenarnya tercermin dari sikap, tingkah laku dan perbuatan yang selalu mengedepankan kepentingan rakyat, tunduk di hadapan hukum, memiliki empati akan nasib masyarakat, beretika, bermoral, jujur serta responsif terhadap kemaslahatan yang lebih besar.
Gagasan politik santun, dipastikan tidak ditemukan dalam pandangan berpikir Niccolo Machiavelli sebagai pemikir politik di abad pertengahan, sebab landasan berpikirnya sangat pragmatis, realis, dan individualis.
Kerangka teori yang dikembangkan oleh Niccolo menyebutkan “politics has no relation to moral” bahwa politik secara realitas tidak memiliki hubungan dengan moral.
Pola pikir seperti ini hanya cocok diadopsi oleh pemerintahan yang bergaya otoriter dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.
Memang ada kecenderungan, kalau dilihat akhir-akhir ini muncul sikap tidak percaya kepada politik dan kekuasaan, bahkan beranggapan bahwa politik itu kotor dan keji.
Hal ini terjadi karena sebagian orang menjadikan politik hanya semata-mata sebagai alat pencapaian kekuasaan saja.
Kondisi ini sangat tidak baik bagi budaya politik kita.
Sebab bila dibiarkan terus terjadi, ini menjadi awal dari kecelakaan berpikir dalam politik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/muslim-s-hi-mm-penulis-adalah-ketua-dpd-demokrat-aceh.jpg)