Opini
Politik Santun; Sebuah Jawaban Perbaikan
Mengawali tahun 2022, seyogyanya kita awali dengan kembali merenung; menilik; mencermati diri kita terhadap sikap dan perbuatan yang telah terlewati
Berangkat dari situasi meningkatnya kecurigaan terhadap dunia politik, kita perlu mengambil pandangan dari pemikir politik Islam seperti Ibnu Khaldun (1332-1406).
Dalam pandangannya aspek-aspek positif dalam politik di antaranya untuk menjamin praktek tolong-menolong dan adanya keteraturan dalam masyarakat.
Khaldun menambahkan pula, praktek-praktek penyalahgunaan kekuasaan dalam politik disebabkan oleh nafsu ingin menguasai dalam diri manusia, maka dari itu semestinya yang perlu diperkuat adalah unsur rabbani sehingga lebih sadar fungsi dan tugas sebagai hamba Allah (A.Arahman Zainuddin, 1992).
Urgensi politik santun
Dalam berbagai catatan media, salah satu persoalan yang selalu timbul adalah terkait hoaks (berita bohong) dan hate speech (ujaran kebencian).
Dua sikap tidak santun terus terjadi dari waktu ke waktu.
Biasanya pula perbuatan tersebut mengalami peningkatan saat-saat menjelang pemilihan umum (Pemilu) dan Kontestasi politik lainnya.
Memang semua pihak, terus mencari formula-formula jitu guna memperkecil pengaruh dan ruang gerak para “pegiat hoaks dan hate speech”.
Baca juga: 8 Penulis Asal Al-Aziziyah Samalanga Tulis Buku “Aceh 2022: Pendidikan dan Politiknya”
Baca juga: Pesona Politik dan Godaan Korupsi
Pada Pilkada 2020 yang baru saja berlalu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menemukan ada sebanyak 47 isu hoaks yang tersebar di 602 sebaran konten pada platform digital.
Di era teknologi yang meningkat kita membutuhkan kesadaran ganda untuk mengantisipasi berbagai berita bohong sebab setiap menit konten-konten tersebut terus diproduksi, didistribusi hingga menjadi konsumsi secara luas.
Maka kita mesti “berperang” terhadap jari kita sendiri, agar jangan mudah untuk menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya.
Menuju tahun politik tahun 2024, kita bisa membudayakan politik santun sejak dini.
Misal dengan menghormati yang lebih tua, menghargai para pihak dengan kewenangannya masing-masing serta memperkuat tali persaudaraan.
Belajar sosok SBY
Bagi kami segenap kader Partai Demokrat, politik santun merupakan nilai yang telah ditanamkan oleh Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/muslim-s-hi-mm-penulis-adalah-ketua-dpd-demokrat-aceh.jpg)