Minggu, 26 April 2026

Jurnalisme Warga

Kisah di Balik Peluncuran Kamus Kemaritiman Aceh-Indonesia

alai Bahasa Provinsi Aceh (BBPA) meluncurkan atau me-launching Kamus Kemaritiman Bahasa Aceh-Indonesia pada Jumat, 24 Desember 2021

Editor: bakri
IST
AMIRUDDIN (Abu Teuming), Penyuluh Agama pada Kuakec Krueng Barona Jaya, Aceh Besar dan Pegiat Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Banda Aceh 

Alasannya lain menerbitkan kamus ini sebab Aceh termasuk daerah maritim, yang dikelilingi Selat Malaka dan Samudra Hindia, sehingga sangat banyak bahasa kemaritiman yang patut dikumpulkan yang kini mulai tercecer tanpa penutur.

Mereka jumpai nelayan, yang memang menggunakan kosakata Aceh dalam kehidupan sehari-hari, terutama bahasa kemaritiman.

Namun, mereka akui bahwa hal itu tidak mudah, terlebih beberapa tim tidak mampu berkomunikasi maksimal dengan bahasa Aceh, sehingga sulit memahami, bahkan sulit menulis kata dalam bahasa Aceh.

Seusai Zulfahmirda menyampaikan sambutan, kesemptan diberikan pada Kepala Bidang Pembinaan SMA dan Pendidikan Khusus Layanan Khusus (PKLK) Dinas Pendidikan Aceh, Hamdani.

Kehadirannya sebagai tokoh pembuka acara sekaligus peluncuran kamus.

Meski terlihat lemas, karena usia, tampaknya ia amat bahagia dengan kehadiran kamus perbendaharaan bahasa Aceh ini.

Apresiasi luar biasa ia sampaikan pada berbagai pihak yang mengorbankan tenaga, pikiran, dan finansial untuk melestarikan kearifan lokal Aceh, lewat kamus ini.

Selain mendukung program tersebut, perwakilan dinas pendidikan itu metitip pesan, supaya mendorong seluruh siswa dan guru di Aceh agar aktif menulis, apa pun jenis tulisan, termasuk menulis buku dan kamus.

Ia mendambakan pemangku pendidikan di Aceh mengalakkan program menulis di sekolah.

Di hadapan audiens, ia mengaku punya mimpi besar agar bahasa Aceh tidak hilang ditelan zaman, apalagi kini pengaruh asing sangat kental yang dikhawatirkan mampu mendobrak kearifan lokal ke tepi kehancuran dan pergeseran bahasa.

Menurutnya, meskipun dialek bahasa Aceh berbeda-beda, kamus ini bisa menyamakan persepsi nantinya bagi generasi, terkait bahasa Aceh.

Setelah sambutan Hamdani, giliran Karyono naik panggung, menyampaikan informasi yang menurutnya layak dipahami publik.

Penulis mendengar, Karyono juga ikut mengomentari program ini.

Menurutnya, entri kosakata kemaritiman ini berpeluang untuk ditambah, bahkan ia memberikan ruang kepada masyarakat untuk berkontribusi, melalui pengusulan kosakata bahasa Aceh ke Kamus Kemaritiman Aceh-Indonesia versi daring.

Setelah berhasil pembumian kamus kemaritiman, ia bersama tim sudah mencanangkan kamus Aceh bidang budaya.

Poin yang akan diabadikan dalam kamus di antaranya prosesi kelahiran hingga kematian, pranata sosial, kuliner, perangkat alat masak, struktur bangunan dan sebagainya, yang intinya budaya dan adat Aceh.

Di hadapan peserta yang terdiri atas akademisi dan pegiat literasi, Karyono mengisahkan perjuangan tim, demi rampung kamus ini, baik cetak maupun daring.

Tahap yang dilalui, seperti inventarisasi kosakata, kemudian mengadakan lokakarya demi menjaring saran dan argumentasi berkelas dari segenap elemen.

Selanjutnya, masuk tahap sidang komisi bahasa daerah dan penyuntingan.

Proses ini sangat menyita waktu dan tenaga, tapi terbayarkan setelah pelucuran kamus.

Ia mengingatkan, kamus ini akan selalu diperbarui melalui versi daring.

Masyarakat juga diberi kesempatan berpartisipasi dengan cara mengusulkan kosakata terkait kemaritiman ke dalam kamus tersebut.

Semoga, doanya, dengan adanya kamus ini BBPA mampu memberi manfaat kepada masyarakat.

Intinya, berkontribusi terhadap pelestarian bahasa daerah dan pemerkayaan kosakata bahasa Indonesia.

Baca juga: Ratusan Taruna Maritim Divaksin

Baca juga: Gubernur Aceh Sambut Menko Maritim dan Investasi di Bandara SIM

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved