Kupi Beungoh
Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (VIII) - Akankah AS Salah Hitung dengan Sanksi Ekonomi?
“Kesalahan berhitung” itu pernah dialami AS, dan pernah juga dialami oleh Rusia-Uni Soviet pada masa perang dingin.
Oleh: Ahmad Humam Hamid*)
KETIKA sebuah negara memutuskan untuk menyerang dan menduduki negara lain, yang terbayang di benak pemimpinnya adalah sekenario kemenangan yang lengkap, setengah, atau paling kurang, sedikit.
Di sebalik itu, semua sejarah perang selalu berurusan dengan kesalahan berhitung, sebut saja miskalkulasi.
Kadang sangat tinggi percaya diri, dan sekaligus melihat lawan sebagai entitas yang lemah tak berdaya.
Tak jarang ketika perang diputuskan, yang dihitung adalah segala kemudahan yang akan dicapai, betapa keuntungan yang akan didapat jauh lebih besar dari ongkos perang yang dikeluarkan.
Sangat jarang pihak yang memulai perang lalai menghitung kelemahannya, dan betapa perang mempunyai kerumitan tersendiri, yang kadang sama sekali tidak masuk dalam kalkulasi awal sebelum perang dimulai.
“Kesalahan berhitung” itu pernah dialami AS, dan pernah juga dialami oleh Rusia-Uni Soviet pada masa perang dingin.
Mengangap dirinya pemenang perang Dunia ke 2, kaya, dan mempunyai persenjataan canggih, AS menganggap Vietnam Utara komunis yang didukung Soviet dan Cina tak lebih sebagai negara kere.
Vietnam Utara dianggap tak lebih dari negara ekonomi petani miskin.
Negara dengan ideologi komunis itu hendak merebut Vietnam Selatan yang didukung oleh AS.
Apa yang terjadi setelah intervensi AS ke Vietnam?
Tak terhitung korban pejuang Vietkong, dan cukup banyak pula kantong plastik mayat tentara AS mendarat secara periodik di berbagai lapngan terbang angkatan udara negeri itu .
AS gagal di Vietnam.
AS akhirnya harus keluar dari Vietnam dengan kepala ke bawah, dan harus mengakui bahwa para petani Vietkong itu lebih kuat “nyalinya” dari tentara super moderen AS.
Kejadian serupa juga terjadi di Afghanistan, ketika AS berhadapan dengan Al Qaeda dan Taliban.
AS berhasil membunuh Osama Bin Laden dan banyak pembantu dekatnya.
Apakah setelah “menduduki” Afghanistan 20 tahun, “membangun” demokrasi dengan terpilihnya Hamid Karzai, Ashraf Ghani, dan mencurahkan 2.2 triliun dollar untuk pembangunan dan keamanan AS, negara itu telah menang?
Jawabannya juga tidak.
AS harus realistis, dan harus menerima Afghanistan diperintah oleh “orang berjenggot” dan juga makan dalam “satu piring besar” rame-rame.
Memang AS masih memberi sanksi keuangan kepada Taliban, tetapi negeri itu terus berjalan apa adanya.
Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (I): Denazifikasi dan Demiliterisasi Ukraina
Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (II), Emosional atau Logiskah Alasan Putin?
Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (III), Benarkah Putin Reinkarnasi Ivan ‘Ceulaka’ the Teribble?
Soviet juga Sami Mawon
Apakah Rusia, yang praktis merupakan “sucessor state”-negara pelanjut, dari Uni Soviet alpa dari pengalaman seperti yang dialami AS?
Tidak juga, sami mawon.
Uni Soviet, negara yang mesin perangnya sebanding dengan AS pada akhir tahun tujupuluhan menginvasi negera miskin dan terkebelakang di muka bumi, Afghanistan.
Alasannya apalagi kalau bukan ideologi.
Pada tahun 1978 Partai Komunis Afghanistan yang Prosoviet mengambil alih kuasa dan berperang dengan berbagai front perlawanan, baik yang di para pejuang muslim yang didukung AS- Mujahideen, maupun fraksi kecil komunis Procina.
Soviet membantu rezim Najibullah selama 10 tahun dengan mengirimkan pasukan, mesin perang, dan bantuan keuangan yang cukup besar.
Akhirnya apa yang didapat oleh Uni Soviet?
Negara adikuasa itu kalah dipermalukan oleh Mujahedeen yang berperang dengan strategi gerilya yang tak ada dalam buku cetak perpustakaan Akademi Militer manapun di dunia . Bahkan dalam buku manual perang anti gerilya negara pemenang perang pun, tak ada penjelasan lengkap untuk menandingi gaya perang “kampung” Afghanistan yang menggunakan senjata canggih bantuan AS pada masa itu.
Pengalaman Soviet di Afghanistan, dan pengalaman AS di Vietnam, Afghanistan, bahkan di Irak dan Libya, adalah bukti kuat betapa “miskalkulasi” dapat membuat pihak agresor, seperti AS dan Uni Soviet menderita kekalahan yang sangat memalukan.
Sesuatu yang tidak pernah dihitung ketika perang dimulai.
Kedua negara besar itu tidak pernah menduga bahwa “kekuatan moral” tentara dan rakyat adalah kunci kemenangan, persis ketika Indonesia mengusir Belanda dan sekutu setelah Perang Dunia ke II.
Negeri yang kecil yang bahkan tidak maju, seperti Vietnam pada masa itu, dan Afghanistan, dengan perhitungan biasa akan dapat dikalahkan oleh kekuatan raksasa ternyata hanya ada dalam imnajinasi awal agresor.
Setelah perang berjalan, imajinasi itu berubah menjadi mimpi buruk yang sukar sekali dihilangkan, walaupun perang telah usai.
Kini Rusia telah menginvasi Ukraina.
Pasukan, artileri, dan berbagai perlengkapan perang lainnya telah mulai masuk ke Ukraina, bahkan telah mendekati ibu kota Kiev.
Jauh hari sebelum itu Rusia telah menganeksasi Crimea dari Ukraina pada tahun 2014.
Tidak hanya itu, Rusia bahkan mengulangi keberhasilannya membentuk dua negara baru di Georgia pada tahun 2008, dengan membentuk dan mengakui 2 negara baru, Donbask, dan Luhanks beberapa waktu sebelumnya.
Sebaliknya AS dan sekutunya juga telah melancarkan perang dalam bentuk nonfisik- pengiriman berbagai jenis senjata untuk Ukraina, bantuan uang, sanksi ekonomi, penghentian impor minyak, penyitaan harta para oligarkhi Rusia lingkaran Putin di luar negeri, dan berbagai hal lain yang berhubungan dengan pelemahan Rusia.
Apakah semua yang dilakuan Putin dan lawannya Ukraina plus AS dan sekutunya telah dihitung dengan benar dan akurat?
Ambil contoh, seberapa ampuhkah sanksi ekonomi yang dilancarkan oleh AS terhadap Rusia?
Bukankah sanksi ekonomi sudah sangat sering dilakukan, dan itu tak membuat Putin bertekuk lutut.
Apakah keputusan AS untuk menyita harta, memblokir jaringan keuangan, dan meblokir visa masuk 8 keluarga top milliuner Rusia berikut dengan 19 lainnya, bahkan harta luar negeri Putin sekalipun akan membuat Putin menyerah?
Apakah keputusan AS untuk mencegah dan menyusahkan oligarkhi lingkaran Putin itu yang menguasai 30 persen kekayaan Rusia, akan membuat mereka membujuk Putin untuk berhenti?
Pengalaman menunjukkan Putin tidak akan pernah bisa diperintah oleh para oligarkhi di sekelilingnya.
Mereka semua kaya karena Putin.
Privatisasi sumber daya alam dan badan usaha milik negara bekas Uni Soviet adalah ladang kekayaan mereka yang tak terhingga.
Berbagai macam fasilitas dan sumber daya itu diberikan Putin kepada siapa yang dia suka.
Kalau mereka macam-macam, pilihannya tidak banyak, ditangkap, ditahan, hartanya disita, bahkan dibunuh kalau perlu.
Apa buktinya kebrutalan Putin terhadap oligarkhi yang melawan?
Mikhail Khodorkovsky adalah seoorang insinyur muda, pengusaha yang kaya, dan bahkan sangat kaya mendadak ketika Boris Yieltsin menjadi presiden pertama Rusia.
Dipercaya sebagai kroni terdekat Yieltsin, ia mengambil alih BUMN minyak Rusia Yukos yang sedang bangkrut.
Ia segera mengubah Yukos menjadi perusahaan migas terbesar Rusia dan bahkan menjadi salah satu terbesar dunia.
Apa kesalahan Khodorkovsky?
Ia mengeritik Putin dalam sebuah pertemuan pada Februari 2003.
Dalam pertemuan itu ia menyorot korupsi pemerintahan yang luar biasa, dan anak buah Putin yang memerasnya.
Setelah itu mereka tidak pernah bertemu lagi.
Khordovssky mulai khawatir, dan akhirnya ia mencoba melarikan diri ke luar negeri.
Ketika Jet pribadinya sedang mengisi bahan bakar tambahan di lapangan Tolmachevo, di belantara Siberia, ia dicegah dan ditangkap oleh petugas.
Khodorkovsky ditahan di penjara paling ketat dan tekenal di Moscow, Matrosskaya Tishina.
Pada tahun 2005, ia diadili dan diputuskan hukuman 8 tahun.
Putin mengirim Khodorkovsky ke kamp kerja paksa Rusia di Krasnokamensk, propinsi Chita, di Siberia Tengah.
Lokasi ini terletak dekat perbatasan Cina, sekitar 4700 kilometer dari Moscow.
Khodorkovsky dibebaskan oleh Putin pada tahun 2013, dan sekarang ia tinggal berpindah-pindah di AS, Swiss, dan Inggris.
Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (IV), Georgia dan Kegagalan Barat Menjegal Putin
Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (V), Laboratorium Suriah Putin, untuk Ukraina?
Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (VI) - Cina dan Strategi Bismarck Xi Jinping
Setop Impor Migas
Beberapa hari yang lalu, Presiden AS menyetop impor migas dari Rusia, dan dia meminta sekutunya di Eropa untuk melakukan hal yang sama.
Untuk mengimbangi kebutuhan permintaian dunia, ia kini “bersahabat” kembali dengan Presiden Venuzela, Nicholas Maduro-sohib dekat Putin di Amerika Latin, dengan melepas embargo minyak AS dan sekutu atas negeri itu.
AS yang punya cadangan migas domestiknya cukup banyak boleh saja menutup keran impor migas dari Rusia yang hanya kurang dari 10 persen.
Tetapi bagaimana dengan negera-negara Uni Eropa yang energinya sangat tergantung dengan Rusia?
Majalah Politico (Maret 2022) menulis ketergantungan negara-negara Uni Eropa kepada Rusia, 27 persen minyak mentah, 41 persen gas alam, dan 47 persen batubara.
Sejumlah negara seperti Estonia, Slovakia, Polandia, dan bahkan Finlandia mengimpor lebih dari 75 persen kebutuhan minyaknya dari Rusia.
Jerman terkenal sebagai negara konsumen gas Rusia terbesar di Eropa.
Akibat serangan AS, Jerman telah menghentikan rencana operasi pipa gas Nord Stream 2 dari Rusia yang melintasi Ukraina dan Polandia.
Apakah Jerman cukup siap dengan sumber daya energinya pada musim dingin yang akan datang?
Inggris dan Italia telah menyiapkan untuk menghentikan impor migas dari Rusia, akan tetapi tidak saat ini.
Inggris menyebutkan tahun 2023, sementara serangan Rusia atas Ukraina terus berlanjut saat ini.
Sanggupkah Eropa serta merta menghentikan impor migas dari Rusia?
Bagaimana dengan harga minyak dunia, inflasi dan pertumbuhan ekonomi Eropa?
Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (VII) - Putin dan “Teori Ureung Pungo”
Rusia telah memperingatkan, jika skenario penghentian impor terjadi, maka harga minyak mentah dunia per barel bisa melejit dari 130 dollar hari ini, akan melonjak menjadi 300 dollar.
Siapa yang akan menderita, Rusia ataukah negara-negara lainnya?
Tentang potensi dampak ekonomi lainnya akibat penghentian impor migas, terutama terhadap kelompok negara-negara Uni Eropa juga akan terasa.
Kajian Goldman Sachs unit Eropa yang dimuat oleh media CNBC (Maret 2022) menyebutkan Uni Eropa secara keseluruhan akan turun GDP nya tahun ini menjadi 2,2 persen - tahun 2021, 4,6 persen, sementara kontraksi akan dialami lebih kuat oleh Jerman -3,4 persen, dan Italia -2,6 persen.
Akankah Uni Eropa bersedia menjadikan dirinya korban, dan apakah ini mungkin?
Baca juga: Terungkap Senjata Mematikan Rusia yang Mampu Membawa 12 Rudal Nuklir, Dunia Bisa Dihancurkan
Bom Nuklir Keuangan
Bagimana dengan sanksi mengeluarkan Rusia dari keluarga besar jaringan dan pasar keuangan global, terutama dengan mendepak Rusia dari sistem pembayaran global terbesar dunia, SWIFT- Society for Worldwide Interbank Financial Telecomunication.
Jaringan ini menghubungkan klien korporasi dari 265 negara, berikut dengan 9000 lembaga keuangan.
Sanksi yang ditujukan ke 7 bank besar Rusia itu, berikut dengan Bank Sentralnya, belum pernah diberikan sebelumnya.
Sanksi ini diberi julukan oleh berbagai media sebagai “bom nuklir keuangan” yang dahsyat dari pihak Barat untuk menghukum Rusia.
Sejumlah analis menyebutkan pengeluaran Rusia dari SWIFT sebagiannya juga merugikan negara-negara maju yang mengimpor migas dari Rusia, dan menganggu transaksi keuangan internasional.
Apakah Rusia akan diam?
Rusia tidak memberi komentar banyak terhadap hal itu, dan kini sejumlah pihak mulai mencurigai bahwa Rusia bisa saja merusak sistem kabel bawah laut antarbenua yang akan menyebabkan semua transaksi keuangan global terhenti.
Banyak pihak menyangka, kemajuan arus informasi digital hari ini lebih berurusan dengan sistem satelit dan sistem cloud, padahal 95 persen arus informasi internet harian terjadi melalui kabel fiber optik bawah laut.
Kini praktisi keuangan global mengkhawatirkan bahwa Rusia akan menggunakan kekuatan kapal selamnya untuk mensabotasie jaringan kabel bawah laut yang menjadi nadi jaringan infomasi global, termasuk SWIFT.
Laporan Laurence (2017) melalui di situs BBC, menejelskan bahwa Rusia telah membangun sebuah kapal selam pada tahun 2015 di pangkalan Severomorsk.
Kapal selam itu-tepatnya kapal selam mata dapat dianggap sebagai sebagai kapal selam induk kecil yang juga membawa sejumlah kapal selam kecil yang berawak, maupun tidak berawak.
Yantar mempunyai kemampuan untuk pemetaan, sabotase, penyadapan, dan bahkan pemutusan kabel bawah laut antar benua.
Pada tanggal 18 Augustus 2021, Naval News ( Maret 2022) meencatat sebuah sistem identifikasi otomatis milik perusahaan swasta mendeteksi Yantar berkeliaran di seputar jaringan kabel bawah laut Trans -Atlantik yang menghubungkan benua Amerika dan Eropa.
Apa implikasinya?
Apa yang akan terjadi bila Rusia membalas blokir SWIFT Barat dengan memotong jaringan kabel bawah laut yang menjadi jantung transaksi keuangan SWIFT dan berbagai lembaga dunia lainnya?
Lalu lintas internet antar benua akan kolaps, dan Rusia berikut dengan seluruh negara-negara SWIFT secara kolektif akan mengalami serangan “nuklir keuangan”.
Jika itu dilakukan, jangankan transaksi besar miliaran dolar, warga London dan New York pun akan tidak dapat menarik uang dari ATM.
Punya nyalikah Putin, dan siapkah AS dan sekutunya? (BERSAMBUNG)
*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA ARTIKEL KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/prof-ahmad-humam-hamid-1.jpg)