Jurnalisme Warga
SMU Menghasilkan Kompetensi Apa?
SEMUA orang intens membicarakan Kurikulum Merdeka atau Kurikulum Prototipe, untuk penguatan nalar dan kompetensi
OLEH HANIF SOFYAN, Peminat Masalah Sosial Ekonomi Tinggal di Tanjung Selamat, Aceh Besar
SEMUA orang intens membicarakan Kurikulum Merdeka atau Kurikulum Prototipe, untuk penguatan nalar dan kompetensi.
Saya jadi ingat ketika pertama kali sekolah menolak Aisya, putri saya, ketika hendak masuk Sekolah Dasar (SD, karena usianya kurang dua bulan agar genap usia enam tahun.
Enam tahun usia prasyarat masuk SD.
Akhirnya ia bersekolah di TK selama 3 tahun.
Semua karena satu alasan, belum berusia “matang nalar” untuk masuk SD.
Sekalipun kemampuan baca-tulisnya mahir.
Matang nalar, ini sebuah fakta menarik! Aneh bin ajaib, saya tidak menemukan keseriusan yang sama ketika seleksi di Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Umum (SMU).
Sebagai buktinya, 12 tahun kemudian, sejak saya mengantar Aisya, saya menjadi mentor eskul di beberapa SMU.
Saya mendapati tidak hanya seorang peserta didik di kelas 1 dan 2 SMU yang persisnya, belum bisa menulis dengan benar.
Baca juga: Perkuat Program Kurikulum Merdeka, FKP Unsyiah Jalin Kerjasama dengan DKP Aceh
Baca juga: Praktik Mengajar ala Kurikulum Merdeka
Apakah Bukankah ini fakta aneh dan luar biasa? Lantas apa sebenarnya “matang nalar” itu, apakah sekedar tentang kompetensi-daya saing, bagaimana sistem pembelajaran di sekolah membentuknya, apakah Kurikulum Merdeka ditujukan sebagai kurikulum berbasis kompetensi? Memang kurikulum berbasis kompetensi itu tidak ada dan tidak pernah ada, seperti pemikiran J.I.G.M Drost, SJ, seorang pakar pendidikan Indonesia.
Kurikulum sebagai alat dalam proses pembelajaran tidak dapat mempunyai basis, dasar.
Yang ada ialah kurikulum yang bertujuan kompetensi, yang harus memungkinkan untuk meluluskan para peserta didik yang memang kompeten.
Berbeda dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang sudah jelas tujuannya.
Kesalahan akut pendidikan Tantangan Sejak era Kurikulum Bertujuan Kompetensi (KBK), hingga Kurikulum 2013 (K-13), persoalan mendasar hasil lulusan kita adalah kemampuan daya saing.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/hanif-sofyan-magister-ekonomi-islam-uin-ar-raniry.jpg)