Jurnalisme Warga
SMU Menghasilkan Kompetensi Apa?
SEMUA orang intens membicarakan Kurikulum Merdeka atau Kurikulum Prototipe, untuk penguatan nalar dan kompetensi
Kompetensi lulusan perguruan tinggi kita sebagai output SMU sejak era KBK diragukan oleh bursa kerja.
Mengapa? Apa substansi masalahnya? Ada kesalahan seperti efek domino yang bergerak simultan sejak jenjang SD, hingga SMU.
Imbasnya pada output yang tidak link and match dengan kemampuan menghadapi masa depan dan kebutuhan bursa kerja.
Dalam kondisi penuh masalah, kita kehilangan orientasi mengantarkan para lulusan SMU pada arah kompetensi yang jelas.
Baca juga: Begini Prodi Komunikasi Unimal Sosialisasi Kurikulum Merdeka pada Mahasiswa Baru Tanpa Tatap Muka
Seperti apa wujud kompetensi mereka kelak, ketika melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.
Padahal yang harus disiapkan adalah generasi yang siap menghadapi bukan suatu kejutan, melainkan suatu perubahan nalar.
Dalam dunia kerja, semua pakar bekerja secara simbiosis mutualis.
Seorang manajer tidak bisa membangun dunia usaha, karena ia seorang teknisi.
Para entrepreneur-lah para pembangun dunia usaha.
Terlepas siapapun entrepreneur itu, apakah seorang berstatus teknokrat, ekonom, birokrat, tapi ia seorang entrepeneur.
Selain untuk profesionalisme yang khusus, seperti halnya dokter, tidak lagi ada masalah soal keahlian yang linier, tapi tentang kecakapan.
Pertarungan tentang kemampuan, masalah linier bidang pendidikan menjadi salah satu sebab tidak sinergis- nya dunia pendidikan dan bursa kerja.
Sejak lama, ada ketakutan kita yang besar terhadap revolusi teknologi dan industri yang makin menggila.
Padahal semuanya hanya alat untuk mempermudah kerjakerja kita.
Teknologi itu netral.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/hanif-sofyan-magister-ekonomi-islam-uin-ar-raniry.jpg)