Jurnalisme Warga
SMU Menghasilkan Kompetensi Apa?
SEMUA orang intens membicarakan Kurikulum Merdeka atau Kurikulum Prototipe, untuk penguatan nalar dan kompetensi
Ini adalah sebuah kunci penting bagi terbukanya simpul masalah yang telah kronis dialami oleh dunia pendidikan kita.
Ada dua masalah yang akan diminimalisir dan diperbaiki melalui keberadaan Kurikulum Merdeka.
Pertama, meskipun perguruan tinggi tidak menuntut “kematangan umum”, tetapi ketrampilan hanya fokus pada mata pelajaran tertentu.
SMU “dipaksa” menjadi sekolah “kejuruan”, sehingga kurikulum sejak lama juga diarahkan pada pola itu.
Pendidikan umum terdesak, dan SMU bukan lagi sekolah umum.
Kedua, adalah sebuah lingkaran setan.
Para guru yang menjadi tenaga pendidik di SMU sekarang, adalah mereka produk kesalahan dari pola kurikulum yang tidak mendewasakan nalar sejak di bangku SMU.
Dalam kondisi tersebut mereka masuk ke jenjang perguruan tinggi yang kurang menguntungkan pembentukan kepribadian mereka.
Karena hanya mementingkan isi mata pembelajaran, bukan struktur dan kaitan dengan disiplin lain.
Korelasi materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-sehari jarang diajarkan.
Kurikulum merdeka hadir dengan, semacam reformasi pada titik; pembauran jurusan IPA-IPS dan fokus pada tujuan kompetensi.
Penggunaan fase dalam capaian Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD).
Fokus pada Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning), untuk menggali dan meningkatkan kemampuannya, dalam bidang literasi dan numerasi.
Di sinilah kita berada sekarang ini, dalam ruang pendidikan kita dengan Kurikulum Merdeka sebagai kompasnya.
Apakah kelak kurikulum tersebut dapat menjadi perantara “memerdekaan” nalar dan kedewasaan kita? Pekerjaan rumah kita masih panjang untuk sampai pada mutu harapan.
Termasuk memperjelas, apa kompetensi lulusan SMU kita sebenarnya, dan bagaimana mempersiapkan mental mereka menghadapi masa depan.
Selain kurikulum, masih ada isi pendidikan, proses pembelajaran dan evaluasi, kualitas guru, sarana dan prasarana sekolah, dan buku ajar kita yang harus dituntaskan.
Semoga langkah kita kali ini tepat.
Waktu kelak akan membuktikan kebenaran pilihan kita.
Baca juga: Dosen STKIP Bina Bangsa Getsempena Bahas Kurikulum Merdeka
Baca juga: Bahas Kurikulum Merdeka, Unimal Gelar Webinar dengan Pembicara dari Universitas Indonesia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/hanif-sofyan-magister-ekonomi-islam-uin-ar-raniry.jpg)