Selasa, 28 April 2026

Opini

Ramadhan dan Mukjizat Alquran

HUBUNGAN antara Alquran dan Ramadhan, memiliki satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, baik secara tekstual maupun dalam lingkup historis

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
M Anzaikhan S Fil I MAg, Dosen Ilmu Falak Fakultas Syariah IAIN Langsa dan Founder Pematik Aceh 

Pada dunia medis modern, teruji bahwa hal yang paling baik bagi ibu hamil yang akan melahirkan adalah lingkungan yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk keributan.

Begitu juga fakta yang terjadi pada sekelompok manusia yang tinggal di lereng gunung Himalaya.

Mereka dikenal sebagai sekelompok manusia yang jarang menderita penyakit, selain itu pada umumnya mereka berumur panjang.

Ternyata salah satu faktor pendukung kesehatan mereka adalah berada di lingkungan yang bersih dan tenang.

Begitu juga dengan sambungan ayat yang artinya; “Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma…” (QS.Maryam: 23).

Mahasiswa di UIN Malang terinspirasi meneliti posisi melahirkan dari ayat ini.

Ternyata setelah diteliti, dari semua posisi melahirkan normal yang direkomendasikan oleh medis, posisi bersandar (setengah duduk) adalah yang paling baik dalam proses melahirkan.

Posisi tersebut dinilai akan membuat sang ibu lebih bertenaga untuk mendorong bayi keluar dari rahim.

Tidak hanya sebatas itu, masih kelanjutan surat yang sama.

Allah berfirman yang artinya; “Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu” (QS.Maryam: 24).

Dalam dunia medis, ini menjadi informasi penting bahwa dalam melahirkan seorang ibu tidak boleh bersedih, ia harus kuat dan tabah agar proses persalinan berjalan dengan selamat.

Hal tersebutlah yang menganjurkan suami untuk mendampingi istri saat melahirkan karena dapat membuat istri lebih kuat tanpa bersedih hati.

Bukti bahwa bersedih hati juga dijelaskan Alquran pada kisah Nabi Yakup.

Allah berfirman yang artinya; “Dan Yakub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: ‘Aduhai duka citaku terhadap Yusuf’ dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seseorang yang menahan amarahnya (terhadap anakanaknya)” (QS.Yusuf: 84).

Sejarah lagi-lagi telah menjadi bukti bahwa kesedihan dapat mengganggu kesehatan manusia.

Salah satunya adalah kebutaan mata bisa muncul karena mata terlalu sering menangis dari kemampuan wajarnya.

Baca juga: Ramadhan dan Perubahan Gaya Hidup (1)

Baca juga: Kodim Aceh Timur Peringati Malam Nuzulul Quran dan Santuni Yatim Piatu

 

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved