Jurnalisme Warga
Peran Perempuan dalam Program Literasi Digital
Sejenak kebosanan pada rutinitas rumah menyergap saya dan semangat melakukan hal-hal yang dahulu saya minati meredup

OLEH SYARIFAH AINI, Pegiat literasi dan Ketua Forum Lingkar Pena Aceh, melaporkan dari Banda Aceh
SETELAH memiliki anak kedua dan berhenti bekerja paruh waktu di laboratorium kampus, saya baru benar-benar merasakan menjadi seorang perempuan berbeda; perempuan yang tidak saya kenali sebelumnya, saya begitu mudah lelah, mulai canggung bersosialisasi, dan emosi saya lebih labil dibandingkan dengan saat saya berperan di dua ranah sekaligus: publik dan domestik.
Mungkin masa-masa transisi menyulitkan saya dari keadaan yang sebelumnya begitu padat aktivitas di luar, kemudian bertukar menjadi jauh lebih padat di rumah, walau saat itu hanya berkutat di seputaran rumah, saya justru merasa jauh lebih sibuk dibanding dengan sebelumnya.
Sejenak kebosanan pada rutinitas rumah menyergap saya dan semangat melakukan hal-hal yang dahulu saya minati meredup.
Kondisi tersebut agaknya memengaruhi lingkungan keluarga, terutama anak-anak.
Mereka menjadi kurang ceria dan tidak bersemangat.
Akhirnya saya putuskan bekerja paruh waktu untuk mencari keseimbangan dan demi aktualisasi diri.
Dari sana saya mulai belajar ‘journaling’ untuk membuat catatan-catatan daftar yang harus dikerjakan hari ini dan waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikannya.
Memang terkadang tak selalu tepat di waktu yang tertulis di jurnal, tapi dengan catatan semacam itu, membuat pekerjaan tidak keteteran terlalu banyak dan saya lebih bisa menentukan skala prioritas.
Baca juga: AJI Lhokseumawe Adakan Training Literasi Digital untuk Dosen dan Jurnalis
Baca juga: Jubir G20 Ungkap Data Pentingnya Literasi Keuangan Gigital Anak Muda
Terjun ke dunia digital Konvergensi digital pada tahun 2008 konkretnya seperti perangkat ponsel yang sebelumnya hanya bisa dipakai untuk menelepon, kemudian punya fungsi lain menjadi PDA, multimedia player, bisa mengambil foto dan video walaupun belum sejernih saat ini karena resolusinya yang masih rendah.
Saya juga tidak ketinggalan mengikuti tren akses internet ‘boardband unlimited’ dengan harga terjangkau.
Semua peranti itu bisa saya pakai untuk terhubung dengan orang di seluruh dunia dengan minat yang sama.
Saat itu sains menjadi begitu rumit untuk diobrolkan secara ringan, maka saya pun mulai mengasah keterampilan-keterampilan yang mudah dipelajari secara otodidak, atau keterampilan yang dasarnya telah saya kuasai seperti menulis dan menggambar.
Saya mulai dengan menulis dan mempelajari dunia blog.
Beberapa platform menulis dan ‘mailing list’ menyajikan tautan yang dibagi-bagikan oleh teman-teman di Yahoo! Massenger.