Breaking News:

Kupi Beungoh

Kuliner Aceh di Shangri-La

Aceh menggelar parade aneka makanan berat dan ringan yang dibungkus dalam tajuk “Aceh Culinary Festival” atau Festival Kuliner Aceh di Hotel Sangri-la

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
M Nasir Djamil, Ketua Forbes DPR RI dan DPD RI asal Aceh. 

Karenanya tidak heran jika sampai sekarang kata kuliner sudah “merakyat” dan menjadi sesuatu yang identik dengan mencicipi berbagai jenis makanan dan minuman.

Kuliner dalam dunia akademik disebut sebagai “the art of good cooking” alias seni memasak yang baik.

Pelakunya dalam bahasa “man on the street” dijuluki tukang masak, juru masak atau seniman ahli memasak (baik chef professional maupun otodidak) yang mata pencahariannya dari usaha komersialisasi pekerjaan masak-memasak.

Secara bisnis komersial, kuliner adalah “produsen” karena mereka adalah tukang atau juru masak yang memproduksi bahan makanan: menguasai teknik memasak, mengolah, dan memproses resep masakan menjadi makanan.

Setiap daerah atau negara mempunyai makanan dengan ciri khas masing-masing.

Dalam kegiatan kuliner tidak ada urusan ataupun pembahasan mengenai sejarah dan budaya, kisah dan cerita tentang makanan.

Inilah yang membedakan kuliner dengan gastronomi atau pengetahuan para ahli tentang makanan.

Pelakunya disebut sebagai gastronom.

Gastronom secara bisnis komersial adalah konsumen karena mereka adalah “tukang makan” yang paham tentang sejarah makanan (food story), menilai makanan (food assessment), dan seni makan yang baik (the art of good eating).

Berbeda dengan “chef”, seorang gastronom tidak harus pandai memasak, cukup mengetahui secara umum proses dan tata cara memasaknya saja, bukan praktik dari teknik memasak tertentu.

Dari sisi lain, gastronomi meletakkan makanan dalam suatu konteks seni dan tindakan atau budaya “dine-in” yang mempunyai aturan dan tata cara protokol “table manner” dan “food assessment”, jadi bukan asal makan belaka seperti yang dilakukan pada kuliner.

Di sinilah titik singgung festival kuliner Aceh yang berlangsung di Shangri-La.

Tempat itu diharapkan mempertemukan gastronom dan kuliner.

Kita ingin ajang itu menjadi arena pembelajaran sehingga makanan Aceh yang disajikan merefleksikan simbol budaya material buatan manusia yang diciptakan oleh masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi serta sebagai faktor penentu dan tata cara pengatur perilaku anggotanya.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved