Jurnalisme Warga
Serunya Arung Jeram di Krueng Geumpang, Pidie
Tempat inilah kami akan memulai petualangan sore itu: menguji adrenalin dengan melakukan arung jeram di Krueng Geumpang

Memerlukan waktu setidaknya 20 menit untuk menggendutkan perahu berkapasitas enam orang itu.
Sembari itu, saya mengenakan jaket pelampung dan helm.
Setelah selesai dipompa perahu pun didorong ke air.
Kami naik ke atas perahu.
Saya duduk di sisi kanan, Fitri di sisi kiri.
Di depan duduk Nadia dan Raisa.
Di posisi belakang duduk Riski Asman dan Risky Geubrina.
Yang paling berperan adalah pemandu yang duduk di belakang atau istilahnya skiper.
“Skiper ini yang mengendalikan arah dan laju perahu, ibarat mobil mareka yang menyetir,” kata Fitri.
Skiper ini pula yang memberikan aba-aba kepada yang lainnya ke mana atau bagaimana mereka mendayung.
Setelah mengambil posisi duduk yang nyaman di tepi perahu, Fitri memberi abaaba agar saya melakukan kuncian kaki.
Saya menyelipkan kaki kanan di antara floor (lantai) dan thwart yang mirip dengan guling dan melintang di tengah perahu.
Sedangkan kaki kiri dalam posisi tertekuk juga diselipkan di bawah thwart.
Dengan posisi kaki yang terjepit dari dua sisi berlawanan seperti ini akan membuat pengarung tetap aman dan seimbang meskipun perahu dalam keadaan terombangambing diterjang arus.
Perlahan-lahan skiper di belakang menggerakkan perahu.
Sesaat kemudian perahu mulai melaju dan berlenggak-lenggok dan semakin kencang bergerak di permukaan sungai mengikuti arus yang cukup deras.
Saya mendayung sebisanya.
Sesekali terdengar suara skiper memberi aba-aba kepada dua orang yang duduk di bagian depan.
Krueng Geumpang yang berbatu-batu dan arusnya deras memberikan sensasi mengarung yang luar biasa.
Setidaknya begitulah penuturan Fitri yang mulai menjajal olahraga ini sejak 2016.
Di sepanjang jalur pengarungan terlihat vegetasi yang masih hijau.
Pohon-pohon besar menjulang tinggi.
Kadang- kadang akan muncul sekelompok kelelawar dari pepohonan itu.
Jika beruntung pengarung juga akan berpapasan dengan warga yang mencari ikan keureuling, pencari rotan, atau petani yang melintas di jembatan gantung.
Di salah satu titik yang kami lewati, saya juga melihat sekumpulan warga menyaksikan atraksi yang kami lakukan.
Di antara semua itu, sensasi yang paling menegangkan ialah ketika perahu melintasi jeram berupa aliran air yang deras dan menurun.
Jeram-jeram itu adalah rumah bagi ikan keureuling untuk beranak-pinak.
Saat itulah kami menjadi basah kuyup terkena cipratan air yang memberikan sensasi seperti semburan ombak.
Kami berteriak kegirangan.
Perlahan-lahan kecemasan yang tadi sempat merambati pikiran saya musnah dengan sendirinya.
Di sepanjang pengarungan sore itu pikiran saya berkelana jauh.
Saya kagum pada anak-anak muda yang tidak saja memiliki nyali besar, tetapi juga berkontribusi besar dalam mempromosikan pariwisata di daerahnya.
Baca juga: Warga Negara Jerman Kagumi Arung Jeram di Aceh Tenggara
Baca juga: Promosikan Obyek Wisata Arung Jeram di Aceh Tenggara, 24 Tim Siap Adu Nyali Derasnya Sungai Alas