Breaking News:

Salam

Menyorot Kemiskinan Yang Tidak Beralasan

Merujuk pada teori yang dikemukan Rostow, Prof Mukhlis mengatakan, kemiskinan di Aceh bukan karena faktor alam, melainkan faktor manusia

Editor: bakri
Tangkapan Layar Serambi On TV
Guru Besar Bidang Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Prof Dr Mukhlis Yunus SE MS, dalam program “30 Menit Bersama Tokoh” tayang secara langsung di Youtube Serambi On TV dan Facebook Serambinews.com, Senin (15/8/2022). Program yang mengangkat topik “Aceh Kaya, Kenapa Juga Masih Miskin?” ini dipandu langsung oleh News Manajer Serambi Indonesia, Bukhari M Ali. 

Prof Mukhlis mengajak seluruh lapisan masyarakat dan pemangku kebijakan untuk mengoptimalkan sumber daya alam dan membenahi sumber daya manusia, kembali pada pemberdayaan dan tidak hanya pada satu sektor saja.

“Sebab, kemiskinan juga diwarnai sekian banyak variabel, termasuk sosial budaya, hukum, dan agama,” katanya.

BPS mencatat, Aceh sudah menjadi daerah termiskin di Pulau Sumatera sejak 2002.

Pada 2002, jumlah penduduk miskin di Aceh berjumlah 1,19 juta jiwa atau 29,83 persen, tertinggi dibandingkan daerah lain.

Dari tahun ke tahun, jumlah penduduk miskin di Aceh memang menunjukkan angka penurunan, namun tidak signifikan.

Pada Maret 2022, jumlah penduduk miskin di Aceh sebanyak 806,82 ribu orang atau 14,64 persen.

Meski turun dibanding sebelumnya, namun angka itu jumlah penduduk miskin terbanyak di Sumatera.

Senada dengan pendapat Prof Mukhlis, banyak kalangan sebelumnya sudah mengatakan bahwa penyebab tingginya penduduk miskin di Aceh memang karena antara lain optimalisasi sumber daya alamnya masih rendah.

Termasuk kopi yang sebenarnya sangat digemari oleh masyarakat dunia.

Pendapat lainnya, seorang pejabat Bappenas pernah mengatakan, "Produk-produk masyarakat miskin rentan masih belum diolah sehingga (tidak) mempunyai daya jual yang lebih tinggi.

Hasil olahan rakyat, terutama kopi masih banyak didominasi oleh pasaran melalui Medan.

Jadi kontrol harga masih belum optimal.

" Dana otonomi khusus (Otsus) Aceh yang sudah digelontorkan Pusat selama tahun 2008 hingga 2022 mencapai lebih Rp 95 triliun juga belum termanfaatkan secara baik.

Pengamat Ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Dr Amri SE MSi beberapa waktu lampau mengatakan, tingginya angka kemiskinan Aceh karena adanya kesalahan manajemen anggaran oleh Pemerintah Aceh sejak lama.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved