Breaking News:

Opini

Memartabatkan Bahasa “Endatu”

Bahasa Aceh masuk ke dalam rumpun Bahasa Austronesia, dan dalam sub-kelompok Malayo Polenesia dan Malayo-Sumbawa

Editor: bakri
Memartabatkan Bahasa “Endatu”
FOR SERAMBINEWS.COM
ISKANDAR SYAHPUTERA, Peneliti Sosial Humaniora Badan Riset dan Inovasi Nasional

Toponimi adalah bidang keilmuan dalam Linguistik yang membahas tentang asal-usul penamaan nama tempat, wilayah atau daerah tertentu.

Sekali lagi secara empirik historis dapatlah dilihat hubungan antara kerajaan Hindu Champa dan kerajaan Hindu “Lamuri” atau “Lamri” di Aceh pada era sebelum masuknya Islam ke Aceh atau Nusantara.

Fakta budaya

Baca juga: Pria Bule Cicipi Pliek U Hingga Sunti Agar Bisa Bahasa Aceh, Reaksinya tak Terduga Tapi Bikin Ngakak

Tidak dipungkiri bahwa pengaruh budaya Hindu dan India telah mempengaruhi kehidupan rakyat Aceh pada umumnya, baik dari segi kuliner, pilihan warna maupun adat dan tradisi.

Pada umumnya pilihan warna pada perayaan tradisi-tradisi di Aceh menggunakan warna kuning, merah, dan hitam yang hampir sama dengan warna favorit di India.

Jika dilihat dari jenis masakan atau kuliner di Aceh, pada umumnya menggunakan bumbu atau rempah yang juga umum digunakan masyarakat India seperti; lada/merica, cengkeh, ketumbar, jahe, kunyit, daun kari/daun temuru, kapulaga, dan bunga lawang/cengkeh.

Dalam hal tradisi rakyat Aceh juga memiliki beberapa kebiasaan atau tradisi yang masih dipengaruhi oleh budaya Hindu atau India seperti Kenduri/ Khanduri Laot, Khanduri Blang, Peusijuk dan beberapa ritual lainnya.

Sekali lagi hal-hal tersebut di atas menunjukkan adanya hubungan sejarah Hindu yang dibawa oleh kerajaan Champa pada kerajaan “Lamuri” atau “Lamri” sebelum masuknya era kejayaan atau kesultanan Islam di Aceh dan Nusantara.

Menurut catatan sejarah kerajaan Champa dipengaruhi oleh ajaran Hindu melalui India, sebelum kerajaan Champa ditaklukkan oleh Cina yang selanjutnya dipengaruhi oleh ajaran Budha hingga saat ini.

Fakta geografis

Aceh yang secara geografis terletak di ujung Sumatera merupakan jalur sutra perdagangan masa lalu, yang berada pada alur selat Malaka, dekat dengan Vietnam, Kamboja, Thailand, Laos, dan India.

Sehingga memungkinkan terjadinya ekpansi atau perluasan wilayah kerajaan Champa pada masa dahulu hingga ke kerajaan “Lamuri” atau “Lamri”.

Sekali lagi fakta geografis ini mendukung faktafakta empiris sebelumnya.

Memartabatkan bahasa daerah

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved