Breaking News:

Internasional

Suku Kurdi Tetap Jadi Sasaran Turkiye dan Iran Sejak Abad ke-20, Tanah Air Tak Pernah Terwujud

Suku Kurdi merupakan kelompok etnis non-Arab yang berjumlah hingga 35 juta orang yang impiannya akan tanah air digagalkan secara brutal sepanjang abad

Editor: M Nur Pakar
AFP
Seorang pria melintasi sebuah kawasan yang rusak terkena serangan rudal dan drone Iran di kawasan Kurdi, Irak Utara. 

SERAMBINEWS.COM, PARIS - Suku Kurdi merupakan kelompok etnis non-Arab yang berjumlah hingga 35 juta orang yang impiannya akan tanah air digagalkan secara brutal sepanjang abad ke-20.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyalahkan militan Kurdi atas pemboman mematikan di Istanbul awal bulan ini, sebuah tuduhan yang mereka tolak dengan keras.

Sebagai pembalasan, Turkiye telah menyerang hampir 500 sasaran Kurdi di seluruh Irak dan Suriah.

Hal itu sebagai bagian dari kampanye serangan udara dalam beberapa hari terakhir, kata Menteri Pertahanan Hulusi Akar, Rabu (23/11/2022).

Di Iran, wilayah barat yang didominasi Kurdi berada di garis depan pemberontakan rakyat atas kematian perempuan muda Kurdi Mahsa Amini setelah penangkapannya oleh polisi moralitas dua bulan lalu.

Pasukan keamanan Iran telah menanggapi dengan tindakan keras terhadap wilayah Kurdi dan serangan lintas batas terhadap kelompok oposisi Kurdi yang berbasis di Irak utara.

Baca juga: Pasukan Keamanan Iran Gunakan peluru Tajam dan Senjata Berat Tumpas Demonstrasi di Kurdi

Suku Kurdi mendiami sebagian besar daerah pegunungan di tenggara Turkiye melalui Suriah utara dan Irak hingga Iran tengah.

Runtuhnya Kesultanan Utsmaniyah pada akhir Perang Dunia I membuka jalan bagi pembentukan negara Kurdi dalam Perjanjian Sevres pascaperang.

Namun kaum nasionalis Turki, yang dipimpin oleh jenderal militer Mustafa Kemal Ataturk, menentang persyaratan keras dari perjanjian tersebut dan melancarkan perang baru.

Itu menghasilkan kesepakatan baru, Perjanjian Lausanne 1923, yang menetapkan batas-batas Turkiye modern dan secara efektif menarik garis di bawah dukungan internasional untuk kemerdekaan Kurdistan.

Pada tahun 1984, Partai Pekerja Kurdistan (PKK) mengangkat senjata untuk pembentukan negara merdeka di Turkiye tenggara yang didominasi Kurdi.

Tetapi kemudian mengurangi tuntutannya untuk otonomi Kurdi yang lebih besar.

Baca juga: Pasukan Kurdi Akan Halau Invasi Darat Pasukan Turkiye, Sudah Bersiap Sejak 2019

Konflik antara PKK yang dilarang dan negara Turki telah merenggut puluhan ribu nyawa.

Pendiri PKK, Abdullah Ocalan telah berada di balik jeruji besi sejak 1999.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved