Jurnalisme Warga
Menikmati Malam di Alun-Alun Kota Bireuen
Posisi Bireuen yang diapit oleh Pidie Jaya, Aceh Utara, dan Kabupaten Bener Meriah sangat menguntungkan bila dilihat dari sisi perkembangan ekonomi
Menikmati kebersamaan dengan orang-orang tercinta tidak perlu dana mahal, karena bahagia itu sederhana.
Para pekerja pasti akan merindukan duduk santai, sekadar berdisikusi atau menikmati makanan kesukaan masing-masing di tempat yang disukai.
Solusinya adalah dengan memanfaatkan waktu libur untuk melepas lelah setelah rutin bekerja yang terkadang melupakan keluarga, hal ini diharapkan mampu memperbaiki hubungan kedekatan dengan keluarga tercinta.
Hal yang menarik di taman kota ini berdiri kokoh Tugu Batee Kureng dan Tugu Monas Mini.
Batee Kureng adalah salah satu nama batalion Tentara Islam Indonesia (TII).
Untuk mengenangnya ketika bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dibagunlah Tugu Batee Kureng, sedangkan Tugu Monas Mini merupakan simbol Bireuen sebagai Kota Juang.
Sabtu malam lalu masyarakat tumpah ruah menikmati indahnya suasana malam, bertepatan dengan momen menunggu detik-detik masuknya ke tahun baru 2023.
Saya dan keluarga juga turut serta dalam kegembiraan bersama dengan pengunjung yang lain.
Warna-warni cahaya dari pantulan lampu jalan dan ditambah dengan indahnya lampu pada dinding odongodong/ kendaraan mirip roda empat yang dimodifikasi untuk membawa anak-anak, terkadang bersama orang tuanya mengelililingi kota Bireuen dengan tarif terjangkau.
Dalam rangka menyambut tahun baru 2023, Pemkab Bireuen telah mengeluarkan seruan bersama untuk tidak merayakan tahun baru dengan kegiatankegiatan yang mengganggu ketertiban umum dan diajurkan melaksanakan doa dan zikir di kediaman masing- masing.
Kehadiran masyarakat di alun-alun kota bukanlah untuk merayakan malam tahun baru, melainkan hanya sekadar menikmati malam libur bersama keluarga tercinta.
Baca juga: Bireuen belum Tetapkan UMK 2023, Tunggu UMP Aceh, Begini Kondisi Upah & Industri di Kota Juang Itu
Padatnya lalu lintas di seputaran alun-alun kota membuat kita harus hati-hati dalam memandu kendaraan, apalagi kalau mobil sedang berada di tengah-tengah kendaraan lainnya maka perlu kesabaran ekstra.
Masyarakat yang datang ada yang mengendarai sepeda motor, mobil pribadi, bahkan angkutan umum yang mereka sewa dari kampung masing-masing.
Untuk yang berdomisili di seputaran kota hanya berjalan kaki saja karena tak ada hambatan untuk menuju lokasi ini.
Sempat terlihat di bawah remang-remang lampu taman ada orang tua dengan empat orang anaknya menjajakan makanan kepada para pengunjung.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.