Opini
Pudarnya Nilai Kepedulian Sosial
Meskipun tanggung jawab utama ada pada orang tuanya namun sesama muslim kita juga memiliki kewajiban untuk mengingatkan sebagaimana hadis Rasulullah s
Sikap acuh seperti ini boleh jadi dipicu oleh rasa apatis seseorang dengan sikap orang tua dan keluarganya yang kurang mengapresiasi dan berterima kasih tatkala ada yang melaporkan tentang perilaku anaknya yang dinilai telah melanggar asas kepatutan dan kesopanan. Dalam banyak kasus, respons orang tua jika menerima laporan tentang perilaku anaknya, kurang positif bahkan ada kata-kata yang cenderung melecehkan pelapor dan menganggapnya sebagai musuh.
Patut disesalkan, tidak sepantasnya orang tua bersikap reaktif dan meresponsnya secara negatif. Alangkah mulianya jika menerima informasi dengan lapang dada lalu mengcroschek dan mendiskusikan di internal keluarga tentang kabar miring tersebut, bak kata pepatah “tak mungkin timbul asap jika tak ada api”.
Patut berterima kasih jika ada yang memberitahu tentang perilaku anak kita yang banyak bergaul di luar rumah karena hal demikian merupakan bentuk perhatian dan kasih sayang seseorang agar keluarga kita lebih terlindungi dan selamat dunia akhirat. Bukankah agama kita nasehat, dan sesama kita saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran sebagaimana disebutkan dalam Alquran “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (Q.S. Ali Imran: 110).
Untuk itu jangan pernah bosan menyeru yang makruf dan mencegah yang munkar, sebisa mungkin tumbuhkan sikap “orang tua sosial” pada jiwa kita yang niatnya tulus karena Allah dan murni ingin menyelamatkan generasi kita. Karena sikap yang demikian merupakan salah satu bentuk jihad yang bernilai tinggi di sisi Allah.
Meskipun tanggung jawab utama ada pada orang tuanya namun sesama muslim kita juga memiliki kewajiban untuk mengingatkan sebagaimana hadis Rasulullah saw, “Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya, jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya, jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman”.
Maka ketika ada anak kecil membeli rokok, sebagai pemilik warung patut bertanya untuk kebutuhan siapa dan diberitahu akan bahaya merokok dan anak-anak belum sepantasnya merokok. Ketika azan berkumandang alangkah indahnya jika sang pemilik warung menghentikan pelayanan sementara dan mengingatkan para pelanggan untuk shalat lima waktu.
Saat muda-mudi non mahram berangkulan mesra di atas kendaraan bermotor, kafe, tempat rekreasi, agar diingatkan apakah sudah menjadi pasangan suami-istri yang sah. Bahwa orang tua mengirim anaknya untuk menuntut ilmu dan jangan dikhianati amanah orang tua.
Begitu juga ketika di kawasan kampus, rumah kos, lapangan terbuka jika melihat muda-mudi yang sedang berduaan agar diingatkan secara lembut karena itu dapat menjadi virus bagi yang lain, dan boleh jadi orang tuanya di kampung tidak mendapatkan informasi tentang tingkah laku anaknya. Artinya mari menyuburkan sikap “Orang tua sosial” pada jiwa kita.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.