Kupi Beungoh

'Love Bombing' Awal dari Kerusakan Mental

Fenomena ini disebut dengan ‘love bombing’, dimana seseorang mengungkapkan rasa cinta dan perilaku yang berlebihan kepada pasangannya.

Editor: Yocerizal
Serambinews.com
Ahmad Yusuf Mubarak, mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Yusuf Mubarak *)

Manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan orang lain. Banyak hal yang dapat dilakukan antara dua individu untuk memenuhi kebutuhan antara satu dan yang lainya. Salah satu hal yang paling sering terjadi adalah manusia yang memiliki keterkaitan hubungan emosional antara satu sama lain.

Keterkaitan antara satu sama lain ini bisa saja diungkapkan melalui ungkapan cinta. Ungkapan cinta adalah bentuk awal seseorang memberikan dukungan, kebahagian, dan rasa aman kepada siapapun yang kita cintai. Dalam hubungan dengan sebuah pasangan, ungkapan cinta merupakan sebuah langkah awal dalam membangun komitmen dalam jangka panjang. Akan tetapi terkadang ungkapan itu sering kali dilebih-lebihkan dan bersifat fatal.

Fenomena ini disebut dengan ‘love bombing’, dimana seseorang mengungkapkan rasa cinta dan perilaku yang berlebihan kepada pasangannya. Pelaku biasanya dapat melakukan tindakan tersebut dengan menggunakan tindakan verbal dan nonverbal seperti pujian, hadiah, membombardir dengan chat atau telpon, pertemuan yang intens, kata-kata dan lain sebagainya.

Seseorang yang melakukan love bombing bisa saja melakukan secara spontan karena dalam masa fase perkenalan. Hal ini lumrah terjadi untuk membuktikan rasa ketertarikan antara satu sama lain, namun hal ini juga bisa saja dilakukan oleh seorang yang memiliki masalah mental seperti manipulator, narsistik, dan sosiopat.

Tujuan utama dari love bombing adalah manipulasi. Manipulasi ini menciptakan visual kepada lawan pasangan seperti mereka merasa dikejar dan dibutuhkan secara intens. Sehingga membuat korban tidak peka terhadap maksud dari perbuatan tersebut yang mengarah kepada controlling di luar batas, hubungan yang tidak jelas, dan toxic relationship.

Ketika seorang pasangan berhenti melakukan love bombing kepada lawannya, maka awal konflik antar diri sendiri dan pasangan dimulai. Akan banyak masalah yang dapat mengganggu korban secara mental.

Baca juga: Usai Shalat Tarawih, Rumah Dinas Guru yang Ditempati Warga Miskin di Titeu, Pidie Terbakar

Baca juga: Pelunasan Biaya Haji BPIH 2024 Tahap II Dibuka Mulai Rabu Ini

Salah satu dampak yang akan terjadi setelah perubahan dari pasangan anda adalah low self- esteem kehilangan percaya diri. Dimana seseorang yang melewati fase love bombing akan memiliki pandangan negatif terhadap dirinya merasa dirinya merasa tidak berharga dan merasa bersalah terhadap pasangan anda yang melakukan love bombing.

Hal ini terjadi karena korban merasa tidak sempurna untuk memenuhi ekspektasi pasangnya karena korban terlalu fokus dengan harapan dan keinginan yang diberikan oleh pelaku. Adanya penolakan seperti tidak ada lagi puji-pujian yang didapatkan, kata-kata cinta, atau tidak ada lagi pesan yang dikirimkan setiap harinya, sehingga mengubah konsep diri terhadap nilai-nilai kepuasan bergantung terhadap pujian, dan persetujuan dari pasangan sehingga membuat hilangnya harga diri dan kepercayaan.

Low self-esteem apabila dibiarkan bukan hanya berdampak pada kehidupan pribadi, namun juga dapat berdampak dalam kelompok masyarakat yang dimana membuat seseorang tidak bisa membangun hubungan dengan baik dengan orang lain karena merasa dirinya tidak layak dalam segala aspek sehingga sulit untuk berkembang dan berinovasi.

Menjadi seorang yang sulit berkata tidak juga merupakan dampak dari sebuah love bombing. Akan ada fase dimana pasangan dapat memberikan anda sesuatu yang anda tidak inginkan, tetapi pasangan anda tetap memaksa anda menerima hal tersebut dan tidak boleh menolak. Sebagai pasangan, anda merasa tidak bisa berkata tidak karena takut pasangan akan kecewa atau mengakibatkan hilangnya perhatian positif yang diberikan jadi memilih untuk memprioritaskan hal yang dikehendaki oleh pasangan daripada mengatakan yang sebenarnya.

Melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki terutama dalam sebuah hubungan bukanlah hubungan yang sehat. Bayangkan saja, jika pasangan anda memendam hal yang mengganggu pikirannya, lama-kelamaan keadaan tersebut dapat menjadi amarah dan marah apabila tidak disalurkan dengan tepat dapat menjadi stres. Hubungan yang baik adalah hubungan yang didalamnya kedua belah pihak saling setuju terhadap yang diinginkan.

Love bombing tidak melulu akan membuat seseorang menjadi bahagia. Hal ini terkadang dapat membuat pasangan dapat kewalahan dalam merespon intensitas perhatian yang diberikan, sehingga menyebabkan perasaan overstimulasi yang membuat seseorang kesulitan berkonsentrasi atau merespons dengan tepat. Ketika seseorang merespon pesan dengan tidak tepat akan terjadi yang namanya distorsi atau pesan yang disampaikan tidak sesuai dengan persepsi.

Baca juga: Ingat! Jangan Sikat Gigi Usai Zuhur Saat Sedang Puasa, Hukumnya Makruh, Ini Penjelasan UAS

Baca juga: Pupus Sudah Harapan Al Nassr Juarai Liga Champions Asia, Tersingkir Usai Kalah Penalti

Distorsi ini dapat menghasilkan yang namanya konflik karena ketika overstimulasi seseorang bisa saja tidak berpikir dengan jernih. Misalkan dalam merespon pujian yang diberikan dibalas dengan kemarahan karena pasangan anda dalam konteks suasana yang tidak mendukung. Oleh karena itu love bombing harus dihindari dan dalam memuji atau mengungkapan rasa cinta, tidak perlu dilakukan dengan memperhatikan konteks seseorang karena agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

Kontrol yang berlebihan juga merupakan bentuk dampak negatif yang dapat mengganggu kondisi mental. Pelaku yang melakukan love bombing terkadang mengisolasikan pasanganya dari orang terdekat seperti teman, kerabat, dan keluarga. Overprotective ini dapat menjadi bahaya apabila dibiarkan seseorang bisa saja kehilangan rasa percaya dengan terdekatnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved