Minggu, 10 Mei 2026

Kupi Beungoh

Perang Sabil Aceh, Seksualitas dalam Hikayat Prang Sabi

Selain strategi menggunakan pertempuran alusista, perang semesta juga menanamkan sebuah ideologi untuk memotivasi para pejuang.

Tayang:
Editor: Mursal Ismail
For serambinews.com
Muhammad Arifin, Alumnus Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga 

Oleh: Muhammad Arifin 

Terkadang tidak mudah dalam memenangkan perang besar, perlu strategi yang sangat drastis untuk mencapai sebuah target. 

Selain strategi menggunakan pertempuran alusista, perang semesta juga menanamkan sebuah ideologi untuk memotivasi para pejuang. 

Seperti halnya mengangkat isu seksual untuk merangsang dan mengalihkan seks seorang prajurit sehingga dapat membakar semangatnya dalam berperang. 

Aceh yang menghadapi kebrutalan perang dengan Belanda pada 1873-1912 juga merancang strategi dengan mengangkat tema seksual sebagai gerakan manipulatif yang mengatur dan merangsang prajurit untuk berjuang. 

Perang yang berlangsung selama empat dekade ini menjadi perang terlama yang dihadapi Belanda dalam menguasai wilayah Aceh

Kesultanan Aceh kala itu, mengerahkan seluruh kekuatan dalam menghadapi Belanda. Baik rakyat, sumber daya dan ulama sebagai pemimpin perang.

Baca juga: Baitul Mal Aceh Utara Pastikan Pembangunan Rumah Fakir Miskin yang Tidak Sesuai RAB Akan Diperbaiki

Sejak awal, perang semesta yang dilakukan oleh para ulama dan rakyat Aceh telah melibatkan seluruh potensi dan kekuatan yang ada di wilayah Kesultanan Aceh, baik Aceh Besar, Aceh Barat, Aceh Timur dan Utara. 

Para pejuang serentak bergerak untuk mengusir Belanda yang diistilahkan sebagai kaphe atau kafir. 

Para ulama meminta seluruh rakyat untuk saling bahu-membahu membantu perjuangan dalam mengusir penjajah. 

Bantuan itu bisa berbentuk tenaga, harta benda bahkan upaya untuk memberi bantuan menginap dan perlidungan bagi para pejuang. 

Lantas, bagaimana perang yang melewati empat periode ini bisa bertahan, sehingga menjadi bukti kegigihan dan kuatnya persatuan rakyat Aceh dalam menghadapi Belanda.  

Sumber kekuatan, motivasi semangat dan keberanian dalam menentang kehadiran Belanda tertanam dalam sebuah ideologi perang sabil atau perang suci, yaitu keyakinan atas kewajiban berperang di jalan Allah, atau dikenal dengan Jihad fi sabilillah. 

Baca juga: Sosok Vladimir Putin yang Kembali Jadi Presiden Rusia, Ancam NATO dalam Pidato Pertama Pasca Pemilu

Seperti halnya yang dilakukan Rasulullah Saw dan para Sahabat terdahulu.

Dalam ideologi perang sabil, mereka yang mati syahid melawan Kaphe Belanda akan masuk syurga dan memperoleh kenikmatan yang tiada taranya. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved