Selasa, 28 April 2026

Kupi Beungoh

Strategi Pengembangan Pendidikan untuk Kabinet Prabowo

ternyata keberhasilan pembangunan Negara Jepang adalah terletak pada kesungguhannya dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM)/pendidikan

Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Iswadi, M.Pd, Dosen Universitas Esa Unggul-Jakarta 

Apalagi dengan perubahan yang kini berlangsung di Indonesia telah mempunyai Presiden baru yang memiliki visi yang sangat bagus dan saat ini berada dalam posisi yang strategis. 

Fenomena ini dalam konteks sejarah dunia merupakan sebuah keniscayaan dalam perubahan-perubahan besar.

Sejarah Indonesia pun demikian, inisiatif dan kreativitas dari berbagai lapisan Masyarakat merupakan kekuatan utama bagi upaya untuk membangun Indonesia menuju Indonesia yang baru, khususnya dalam bidang pendidikan

Salah satu terobosan yang dapat dilakukan adalah mereformasi guru. Pemerintah Indonesia sangat berpeluang untuk meregulasi sistem pendidikan guru baik dari segi isi, misi maupun dari kelembagaan, karena guru merupakan pilar pendidikan menyongsong revolusi industri 4.0. 

Baca juga: Pentingnya Pendidikan dan Kolaborasi Lintas Profesi Kesehatan

Guru juga merupakan komunikator yang harus mampu menyampaikan sesuatu secara efektif dan efisien kepada orang lain, khususnya kepada para peserta didik.

Lembaga pendidikan guru harus dikelola secara mandiri yang terbebas dari kepentingan-kepentingan politik, karena keberadaan lembaga–lembaga pendidikan saat ini nampaknya tidak bisa diharapkan mampu menghasilkan guru-guru yang ideal.

Disamping sistem pembelajaran kurang mencerminkan sebagai lembaga yang akan menyiapkan calon calon guru, juga diperparah dengan sistem seleksi para calon mahasiswa yang tidak lagi mempertimbangkan aspek minat, bakat dan komitmen menjadi guru.

Lembaga-lembaga pendidikan terdahulu sudah terbukti menghasilkan para lulusan yang memiliki dedikasi dan loyalitas tinggi terhadap peningkatan mutu pendididikan, akan tetapi populasi mereka sudah semakin langka bahkan nyaris habis ditelan waktu.

Jika lembaga tersebut mampu melahirkan gagasan-gagasan baru tentang format Pendidikan Baru, maka tidak akan mustahil kejayaan Indonesia akan kembali ketempo dahulu dalam menyiapkan guru yang ideal di bumi pertiwi. Lembaga ini selain berfungsi sebagai lembaga yang akan mencetak para guru yang ideal, juga dapat menjadi model bagi negara lain dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Guru juga harus menjadi profesi yang bergengsi di masa mendatang. Untuk menjadi seorang guru, tidak boleh hanya mengandalkan tes IQ seperti yang selama ini diterapkan oleh pemerintah Indonesia

Menurut Gardner seorang profesor ilmu syaraf (neurology) dari Universitas Hardvard (1984), kecerdasan itu tidak hanya diartikan sebagai IQ semata seperti yang sering difahami kebanyakan orang, namun kecerdasan itu menyangkut kemampuan seseorang untuk memecahkan dan menyelesaikan masalah serta menghasilkan produk atau ide yang merupakan konsekuensi dalam suasana budaya atau masyarakat tertentu (Anam, 2021). 

Baca juga: Dana Otsus dan Masa Depan Pendidikan di Aceh: Mungkinkah Pemerataan?

Hal ini karena kemampuan intelektual yang diukur melalui tes IQ sangatlah terbatas karena tes IQ hanya menekan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa. Padahal setiap orang mempunyai cara yang unik untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Kecerdasan bukan hanya dilihat dari nilai yang diperoleh seseorang. Kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat suatu masalah, lalu menyelesaikan masalah tersebut atau membuat sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain (Suparlan, 2024). 

Munif (2009) menjelaskan bahwa sumber kecerdasan seseorang adalah kebiasaannya untuk membuat produk-produk baru yang punya nilai budaya (kreativitas) dan kebiasaannya menyelesaikan masalah-masalah secara mandiri (problem solving). 

Gardner telah menetapkan delapan kecerdasan, yaitu: verbal-linguistik, logismatematis, visual-spasial, kinestetik-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal dan naturalis. Kemudian ia juga mengusulkan kecerdasan yang kesembilan dan diberi nama kecerdasan eksistensial atau bisa disebut juga kecerdasan inklusi. 

Multiple intelligence yang mencakup delapan kecerdasan itu padadasarnya merupakan pengembangan dari kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ). 

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved