Jurnalisme Warga
Migas Aceh dan Kisah Berulang-ulang Antre BBM
Aceh adalah daerah yang kaya akan hasil alam, terebih lagi mungkin beberapa tahun ke depan kebangkitan migas akan menjadi andalan dan sumber kemajua
Saya hanya mampu berzikir dan memohon kemudahan. Alhamdulilah, petugas SPBU melihat dan memandu mobil saya untuk bergerak menuju tempat pengisian BBM dengan menahan kendaraan yang lain.
Kelangkaan BBM ini terjadi tidak hanya di Bireuen, tetapi pada waktu saya berkunjung ke Takengon, Lhokseumawe, Langsa, dan Banda Aceh antrean panjang juga terjadi. Pernah suatu kali sudah menunggu hampir satu jam, tapi saat tiba giliran saya Pertalite habis. Saya kesal, kenapa hal ini harus terjadi? Saya terpaksa pulang dengan sisa BBM yang pas-pasan.
Pengaruh banyak kendaraan kemungkinan menjadi salah satu sebab BBM cepat habis atau kuota yang diberikan Pertamina sangat terbatas untuk setiap SPBU. Sedihnya pada saat mengantre masih banyak sopir kendaraan yang tidak patuh, menyalip sesuka hatinya. Begitu jendela mobil dibuka ternyata orang kantoran dengan pakaian dinas, kemudian disusul oleh seorang ibu sosialita dan menoleh ke arah saya dengan sinisnya. Apa mereka tidak punya perasaan? Mengapa mereka tidak mau antre?
Kebiasaan pada hari libur stok BBM pada SPBU habis. Pada bulan Mei lalu tiga kali saya mengantre dan dua kali di awal bulan Juni ini. Karena antrean panjang, saya dan suami memilih pindah ke SPBU yang berlokasi di Cot Gapu Bireuen, ternyata antreannya lebih panjang lagi. Akhirnya kami kembali ke Matangglumpang Dua dan menuju SPBU kecil yang berada di Meunasah Meucab. Alhamdulillah, Pertalite tersedia.
Diberlakukanya pengisian BBM dengan menggunakan barkode (QR Code) pelat kendaraan yang sudah terdaftar pada subsiditepat.mypertamina.id sangat memudahkan petugas SPBU dalam memberikan layanan pembelian minyak yang bersubsidi seperti Pertalite.
Apabila tidak menggunakan barkode maka pengendara harus beli Pertamax atau tidak dilayani. Jumlah BBM yang dapat dibeli maksimal 80 liter.
Sedangkan sebelum berlakunya QR Code, banyak masyarakat yang melakukan pengisian BBM bersubsidi menggunakan jeriken, bahkan ada kendaraan yang tangkinya dipermak sendiri, sehingga jumlah BBM yang dibelinya sangat banyak.
Kelangkaan BBM ini tidak hanya memengaruhi jalannya kendaraan operasional bagi yang memilikinya, tetapi pengusaha juga berimbas karena tidak ada BBM untuk menggerakkan mesin produksinya.
Selain itu, pada saat listrik mati, sebagian masyarakat menggunakan genset, mesin ini pun tanpa BBM tidak akan menyala.
Aceh adalah daerah yang kaya akan hasil alam, terebih lagi mungkin beberapa tahun ke depan kebangkitan migas akan menjadi andalan dan sumber kemajuan untuk perkembangan dan pertumbuan ekonomi di Aceh.
Semoga antrean BBM akan segera berakhir. Namun, semuanya tergantung pada kebijakan pemerintah yang sangat menentukan lancar tidaknya penyaluran BBM untuk setiap daerah. Hal ini berbeda dengan penjualan gas bersubsidi di Aceh, terutama di Bireuen, sudah mulai lancar, tidak ada lagi antrean panjang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/chairul-bariah.jpg)