Jurnalisme Warga
Migas Aceh dan Kisah Berulang-ulang Antre BBM
Aceh adalah daerah yang kaya akan hasil alam, terebih lagi mungkin beberapa tahun ke depan kebangkitan migas akan menjadi andalan dan sumber kemajua
CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) dan Anggota FAMe Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen
Pada era 1970 sampai dengan akhir 2015, Aceh pernah menjadi salah satu daerah penghasil gas alam cair (natural gas liquefaction) atau NGL terbesar di Indonesia, yaitu pada saat kejayaan Mobil Oil—kemudian pada tahun 1999 merger dengan Exxon sehingga menjadi ExxonMobil Coorporation—dan PT Arun NGL Co sebagai perusahaan operatornya.
PT Arun Natural Gas Liquefaction—biasa disingkat Arun NGL—adalah bekas anak usaha Pertamina yang bergerak di bidang produksi LNG. Pada dekade 1990-an, perusahaan ini adalah salah satu produsen LNG terbesar di dunia. Perusahaan ini berhenti beroperasi pada tanggal 30 September 2015.
Penting pula untuk diketahui, terutama oleh kaum milenial Aceh, sejarah “permigasan” di provinsi paling barat Indonesia ini. Bahwa perusahaan minyak Standard Oil Company of New York yang pernah beroperasi di Sumatra telah mendeteksi bahwa di Aceh terdapat kandungan gas yang besar jumlahnya. Atas dasar itu, pencarian oleh Mobil Oil yang dikoordinasi oleh Pertamina Unit I dikonsentrasikan di Desa Arun, Kecamatan Syamtalira, Aceh Utara, yang namanya kelak digunakan sebagai nama perusahaan gas alam ini.
Pada tanggal 24 Oktober 1971, gas alam yang terkandung di bawah ladang gas Arun ditemukan dengan perkiraan cadangan mencapai 17,1 triliun kaki kubik. (Wikipedia, Arun Natural Gas Liquefaction)
Pada 16 Maret 1974, perusahaan ini (PT Arun) pun didirikan sebagai perusahaan operator, diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 19 September 1978 setelah berhasil mengekspor kondensat pertama ke Jepang (14 Oktober 1977).
Keberadaan kedua perusahaan tersebut (Mobil Oil/ExxonMobil dan PT Arun) menjadikan Lhokseumawe—saat itu merupakan ibu kota Kabupaten Aceh Utara—mendapat julukan “Kota Petrodolar”.
Setelah kedua perusahaan itu tidak lagi beroperasi (PT Arun resmi diitutup pada 30 September 2015), 76 persen pekerjanya pun dialihkan ke PT Perta Arun Gas (PAG). Karyawan yang berasal dari luar banyak yang kembali ke daerah masing-masing. Disusul dengan ditutupnya PT Kertas Kraft Aceh (KKA), hal ini menyebakan pertumbuhan perekonomian di Lhokseumawe semakin redup.
Tempat-tempat wisata makin sepi, rumah-rumah karyawan yang ditinggalkan menjadi bangunan-bangunan kosong yang tak berpenghuni.
Namun, masyarakat Aceh kembali dapat tersenyum ketika Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) dan PT Pema Global Energi mengumumkan penemuan sumur yang menyimpan banyak cadangan minyak dan gas di Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara. Semoga sumur migas ini menjadi harapan baru keberlanjutan industri migas di Aceh.
Migas adalah sumber daya alam yang berbentuk cair dan zat padat yang tersimpan di dalam reservoir bumi. Reservoir adalah pori-pori batuan pada suatu kolam di perut bumi. Migas merupakan komoditas vital yang menguasai hajat hidup orang banyak dan mempunyai peranan penting dalam perekonomian nasional.
Migas sangat diperlukan sebagai sumber energi utama di seluruh dunia. Migas digunakan sebagai bahan baku untuk produk obat-obatan, kimia, pupuk, pelarut, plastik, dan pestisida. Di Indonesia, pengelolaan migas diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.
Tidak mudah
Memiliki kendaraan operasional tentu kita membutuhkan bahan bakar minyak (BBM). Untuk mendapatkanya saat ini tidaklah mudah, harus menunggu pada waktu-waktu tertentu. Hal ini saya rasakan sudah berkali-kali, yakni harus antre BBM yang tidak setiap hari tersedia. Beberapa hari lalu sewaktu pagi ingin mengisi BBM jenis Pertalite di salah satu SPBU tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya, petugas mengatakan tidak ada dan akan tiba siangnya.
Pada saat pulang kerja saya kembali lagi ke SPBU yang sama dan menunggu antrean panjang sesuai posisi tangki mobil sebelah kanan, ada sekitar tujuh mobil di depan, saya menunggu dengan sabar. Namun, ketika sudah hampir tiba giliran saya tiba-tiba mobil di samping menyelip dan diikuti oleh mobil selanjutnya. Saya tetap bersabar, hati saya berkata mereka hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa peduli orang lain yang sudah setengah jam lebih mengantre.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/chairul-bariah.jpg)