Jurnalisme Warga
Keunikan Tradisi Seumeulueng Raja Daya di Lamno, Aceh Jaya
Kali ini saya ingin mereportasekan tradisi seumeuleng raja, yang setiap tahun dilaksanakan di Aceh Jaya. Tak ada kabupaten dan kota lain di Aceh yang
PIPI MURFIZA, alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh, melaporkan dari Aceh Jaya
Rakan mandum ban sigom donya (Teman semua dari berbagai penjuru dunia).
Kali ini saya yang tinggal di Aceh Jaya ingin menceritakan sebuah tradisi di daerah kami. Siapa sih yang tidak kenal dengan Aceh Jaya, tempat perempuan dan pria Aceh bermata biru berasal?
Kata Aceh Jaya berasal dari (Aceh: Jawoe: اچيه جاي) merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia. Kabupaten ini dibentuk tahun 2002 sebagai hasil pemekaran dari kabupaten induknya, Aceh Barat.
Kabupaten baru ini mempunyai luas wilayah 381.400 ha ,terletak pada 04° 22 sampai 05° 16 garis Lintang Utara dan 95° 10 sampai 96° 03 Bujur Timur.
Aceh Jaya memiliki pantai yang begitu luas dan indah. Laut biru, gunung tinggi, aneka ragam ikan, dan objek wisata terdapat di kabupaten yang terletak antara Kabupaten Aceh Besar dan Aceh Barat ini.
Kali ini saya ingin mereportasekan tradisi seumeuleng raja, yang setiap tahun dilaksanakan di Aceh Jaya. Tak ada kabupaten dan kota lain di Aceh yang memiliki tradisi seperti ini. Tradisi yang saya maksud adalah tradisi kerajaan berupa ‘seumeulueng’.
Kerajaan yang saya maksud di sini adalah Kerajaan Meureuhom Daya yang didirikan tahun 1480 Masehi dan mempersatukan Kerajaan Keuluang, Lamno, Kuala Unga, dan Kuala Daya menjadi Kerajaan Daya.
Kerajaan ini menetapkan ibu kotanya di Lamkuta dan Kuta yang terletak di Gampong Gle Jong (kini masuk dalam Mukim Kuala Daya, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh).
Adapun tradisi seumeuleung raja dilaksanakan setiap Iduladha. Tepatnya pada hari ketiga Lebaran. Dengan demikian, suemelueng kali ini berlangsung pada hari Rabu, 19 Juni 2024. Kegiatan ini dihadiri pula oleh Penjabat Bupati Aceh Jaya, Bapak Dr A Murtala MSi.
Seumuleung yang maknanya “menyulang” atau “menyuapi” merupakan upacara khusus yang dulu dilakukan Sultan Inayat Syah untuk menobatkan anaknya sebagai Sultan Kerajaan Daya pada tahun 1480 M.
Kini, tradisi ini terus dilakoni di Nanggroe Meureuhom Daya yang secara teritorial sudah masuk wilayah NKRI.
Kegiatan ini merupakan tradisi yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat sekitar, karena seumeulueng Raja Meurehom Daya ini menarik perhatian warga sekitar juga pendatang yang berasal dari berbagai daerah.
Hadir pula tokoh-tokoh hebat tentunya, baik dari wilayah Aceh Jaya, barat selatan Aceh (Barsela), maupun dari daerah lainnya. Undangan utamanya adalah para keturunan raja dari seluruh Aceh juga pemerintah daerah.
Pada tahun-tahun sebelumnya tradisi ini dilaksanakan di sebuah gedung permanen yang ditata bak istana raja masa lalu, dicat warna putih, lengkap dengan lima kubah ukuran berbeda-beda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/PIPI-MURFIZA-OKE.jpg)