Kupi Beungoh
Judi Online Musuh Bersama, Bahaya Nyata Bagi Bangsa
Judi Online merupakan Trend Maksiat yang memporak-porakda kehidupan masyarakat Indonesia yang didesain untuk mengacak-acak tatanan kehidupan
3. Dampaknya pada akal pelaku Syukri Ali Abdurrahman At-Thawil dalam tesisnya menukil penelitian Peter Karlson dosen kedokteran jiwa dari kampus New Jersey di Amerika pada sejumlah pelaku judi.
Hasilnya, kecanduan pada judi menyebabkan tidak seimbangnya zat-zat kimia pada otak penikmatnya. Kemudian juga ditemukan zat dari otak pecandu judi yang serupa dengan pecandu minuman keras.
Dari penelitian ini dapat dipahami bahwa judi bisa merusak akal pelaku, menjadikan pelakunya tidak dapat berpikir dengan jernih. Tentunya, Islam sangat menolak hal ini karena tak seirama dengan tujuan-tujuan syariat dibentuk.
4. Dampaknya pada harta pelaku Salah satu maqhasidus syariah yang harus dijaga dan dilindungi oleh seorang Muslim adalah harta.
Maka Islam sangat melarang israf dan tabzir, yaitu praktik menghambur-hamburkan harta pada perkara-perkara yang tidak berfaidah, dan judi diantaranya. Penjudi apabila ia kalah, maka ia akan kembali mengajak rekannya untuk berjudi dengan harapan ia akan menuai kemenangan nantinya. Ketika ia menang, maka ia semakin penasaran hingga mengakibatkan ia miskin tak memiliki harta.
Sebagaimana disampaikan Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al Ghaib “Dan tak diragukan lagi seorang penjudi setelah melakukannya maka akan menjadi fakir dan miskin.”
5. Dampaknya pada keturunan pelaku
Abu Hayyan Al-Andalusi dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa keadaan terakhir dari seorang yang berjudi adalah mengorbankan keluarganya dan anak keturunannya guna memuaskan rasa penasarannya " akhirnya, si penjudi akibat dari prilakunya yang buruk, ia akan menjadikan keluarga dan anaknya sebagai imbalan dari kekalahannya.”
Itulah beberapa dampak negatif dari judi online yang dapat merusak lima maqhasidus syariah, membahayakan kesehatan pelaku, dan lain-lain. Sudah semestinya kita untuk menasihati kerabat, keluarga, dan kolega kita yang masih melakukannya dalam upaya menyelamatkan bangsa tercinta.
*) PENULIS adalah Ketua PD IPARI (Pengurus Daerah Ikatan Penyuluh Agama RI) Pidie
# Anggota ISAD
# Penyuluh Agama Islam Resolusi Konflik (ARK)
#Pengurus TASTAFI Pidie
#Dosen Fak. Syariah UNISAI
#Alumni Mudi Mesra
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Ketika Kebencian Membunuh Akal Sehat Bangsa |
|
|---|
| Interprofessional Education: Nyata atau Hanya Teori Semata? |
|
|---|
| Pentingnya Strategi Pembangunan yang Menempatkan Tata Kelola sebagai Prioritas Utama |
|
|---|
| Jangan Biarkan Emosi Mengalahkan Logika dalam Pengelolaan Gas Andaman |
|
|---|
| Dayah dan Tantangan Pembinaan Karakter di Era Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Tgk-Mukhlisuddin-alumni-mudi-mesra.jpg)