Kupi Beungoh
Menelisik Konstruksi Identitas Diri Digital Natives di Media Sosial Instagram
Perkembangan teknologi komunikasi digital membawa imajinasi masyarakat menerobos batas-batas realitas sosial yang ada.
Dengan dunia bergerak cepat ke media digital dan informasi, peran TIK dalam pendidikan menjadi semakin penting dan pentingnya ini akan terus tumbuh dan berkembang.
Konstruksi identitas diri digital natives dimedia sosial Instagram melibatkan penggunaan foto-foto sebagai representasi diri untuk mengkonstruksi identitas diri mereka. Foto-foto yang diunggah oleh pengguna digital natives mendapat respon yang bersifat normatif atau suportif dalam caption berupa comment atau like, tetapi juga memunculkan kasus-kasus dan permasalahan.
Mahasiswa, yang saat ini termasuk dalam kelompok usia “Generasi Z”, identik dengan sebutan digital natives dengan karakteristik akrab dan tumbuh bersama perkembangan teknologi.
Beberapa ciri khas digital natives adalah menikmati hal-hal dalam lingkungan yang saling terhubung secara online dan bekerja secara instan, menyukai gambar interaktif dibandingkan teks, dan menyukai akses secara random seperti hypertext.
Instagram merupakan platform media sosial yang cukup popular di kalangan anak muda saat ini.
Berbagai moment dan kejadian di abadikan dalam postingan instagram untuk berbagai tujuan, diantaranya untuk memperoleh tanggapan dari sesama pengguna.
Instagram memiliki fitur untuk mengirim foto dan video dengan menggunakan desain yang unik sehingga menarik jika dijadikan media pembelajaran.
Fitur instagram yang dapat dijadikan media pembelajaran adalah feed maupun instastory.
Tentunya dalam membagikan materi pelajaran tersebut harus ditampilkan gambar-gambar yang membuat mahasiswa tertarik dan ikut andil dalam proses pembelajaran tersebut.
Artikel ini akan membahas bagaimana cara menggunakan dan kelebihan/kelemahan aplikasi instagram sebagai media pembelajaran.
Digital native dalam pembahasan ini adalah mahasiswa dan mahasiswi dan generasi Z lainnya disebut digital native karena merupakan generasi Z atau generasi internet yang lahir di tahun 2000-an.
Menurut Pew Research Center (dalam Tinggi, 2011) membagi generasi manusia dalam 5 kategori berdasarkan kurun waktu tahun kelahiran yaitu: (a) the Greatest Genera- tion (sebelum 1928); (b) the Silent Generation (1928-1945); (c) the Baby Boomer (1946- 1964); (d) Generation X (1965-1980); (e) Millennial Generation (1981-1993).
Generasi manusia yang dikemukakan Jim Marteney (2010) yang dikutip Hasugian (2011) dibagi dalam 6 kategori yaitu: (a) the Greatest Generation (world War II, 1901-1924), (b) the Silent Generation (1925-1942); (c) the Baby Boomers (1943-1960); (d) Generasi X (1961 1981); (e) Millennial (1982-2002); (f) Digital natives (Generasi Z atau Internet Generation), mulai tahun 1994 sampai akhir tahun sekarang.
Generasi digital natives kadang disebut the native gadget yang lahir pada abad digital (Avarez, 2009; Brynko, 2009; Prensky, 2001).
Demi mewujudkan masyarakat yang melek literasi digital diperlukan peran berbagai pihak dalam mengobarkan gerakan literasi digital, mulai dari pemerintah, pegiat literasi, pendidik, hingga masyarakat.
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
| Rektor UIN Ar-Raniry Idaman: Mengembalikan Hakikat Jantong Hate |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ratna-Sari-Mahasiswi-Ilmu-Komunikasi-FISIP-UTU.jpg)