Kupi Beungoh
Menelisik Konstruksi Identitas Diri Digital Natives di Media Sosial Instagram
Perkembangan teknologi komunikasi digital membawa imajinasi masyarakat menerobos batas-batas realitas sosial yang ada.
Hadir dan berkembangnya teknologi digital seperti salahsatunya yaitu dengan adanya media sosial dapat digunakan untuk dapat mudah berkomunikasi dengan orang lain tanpa batas apapun.
Instagram yang merupakan salah satu media online yang hampir semua memanfaatkan Instagram sebagai salah satu media sosial yang memberikan berbagai karakteristik yang membantu dalam kebutuhan mereka, mulai dari hanya berinteraksi biasa saja, promosi, hingga menjadikannya sebagai platform untuk mereka berbisnis dan bahkan tak jarang hingga membentuk semua kehidupan yang berbeda antara kehidpan didunia maya dengan di dunia nyata.
Menurut Purworini (2018) indikator – indikator yang mendasari konstruksi identitas diri tercipta di instagram antara lain yaitu: 1) Breadth (keluasan jumlah informasi yang disajikan), 2) Depth (kedalaman tingkat keintiman informasi yang disajikan), 3) Positivity (positif valensi informasi), 4) Authenticity (keaslian tingkat presentasi yang akurat mencerminkan pengguna), 5) Intensionality (intensionalitas sejauh mana individu secara sadar dan sengaja mengungkapkan sepotong informasi dirinya), 6) feedback (umpan balik yang didapatkan), 7) self reflection (reflaksi diri yang diterima), 8) sellf – esteem (harga diri), dan 9) self- concept clarity (kejelasan konsep yang sudah dibentuk).
Berdasarkan hasil pembahasan diatas Instagram dapat dimanfaatkan sebagai salah satu media sosial yang memberikan berbagai karakteristik yang membantu dalam kebutuhan, mulai dari hanya berinteraksi biasa saja, promosi, hingga menjadikannya sebagai platform untuk berbisnis dan bahkan tak jarang hingga membentuk semua kehidupan yang berbeda antara kehidpan didunia maya dengan di dunia nyata.
Konstruksi identitas diri digital natives di media sosial Instagram adalah bahwa pengguna digital natives menggunakan Instagram sebagai sarana untuk membangun identitas diri mereka.
Mereka mengirimkan foto-foto yang merepresentasikan diri mereka sebagai cara untuk memaknai kembali hasil produksi pengambilan gambar.
Identitas yang ditampilkan oleh digital natives melalui Instagram adalah upaya untuk menunjukkan kemewahan dan kreativitas mereka.
*) PENULIS adalah Mahasiswi UTU Prodi Ilmu Komunikasi/Pembelajar Komunikasi Massa dan Media Baru
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Artikel KUPI BEUNGOH lainnya baca DI SINI
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
| Rektor UIN Ar-Raniry Idaman: Mengembalikan Hakikat Jantong Hate |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ratna-Sari-Mahasiswi-Ilmu-Komunikasi-FISIP-UTU.jpg)