Rabu, 29 April 2026

Kupi Beungoh

Dilema Berburu SK di Pilkada

Seorang politisi sejati tentu tidak akan berhenti dan akan mencari alternatif perahu politik lain.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Fajran Zain, Direktur Kajian Elektoral – ESGE Center. 

Oleh: Fajran Zain*)

Hari-hari menuju tahapan pendaftaran Calon Kepala Daerah ke Komisi Independen Pemilihan (KIP), pada 27-29 Agustus 2024, menjadi detik-detik yang penuh misteri. 

Ruang publik seperti warung-warung kopi dipenuhi oleh diskusi tentang siapa saja bakal calon yang akan bertarung hingga partai apa yang mengusung.

Diskusi ala warkop di Aceh ini, lengkap dengan tentang kekuatan para pendukung di belakang pasangan calon, hingga analisis peta menang dan peta kalahnya. 

Tradisi diskusi di warung kopi ini menjadi penanda bahwa tingkat literasi politik di Aceh cukup tinggi.

Sisi kandidat juga menarik untuk dicermati. 

Mereka tentunya berada dalam kondisi lelah dan was-was. 

Proses lobi yang sudah dibangun dalam setahun terakhir, dan lebih diintensifkan dalam dua bulan terakhir, apakah akan bermuara pada penerbitan Surat Penominasian? 

Atau hanya akan bermuara pada rekaman kisah-kisah PHP yang lain?

Sudah tentu meniti jalan menuju puncak bukanlah upaya yang mudah. 

Setidaknya setiap kandidat harus siap menghadapi enam jenis konsekuensi yaitu resiko biaya (financial risk), resiko waktu (time risk), resiko tenaga (energy risk), resiko penampilan (performance risk), resiko sosial (social risk) dan yang lebih krusial adalah resiko psikologis (psychological risk).

Kita sadar secara biaya bahwa seorang kandidat harus mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk membangun branding ketokohannya yang melibatkan aspek survei, kegiatan-kegiatan sosial pencitraan, mobilisasi dukungan, penggalangan massa, penggunaan media publikasi outdoor, biaya transportasi di daerah basis, biaya entertainment pengurus partai politik.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah mahar politik baik yang resmi ataupun yang dibungkus dengan biaya survei, atau biaya kampanye atau biaya registrasi lainnya.

Makin menuju hari penentuan, makin tinggi pula tingkat pengeluaran kandidat. 

Mereka harus merapat ke pusat pengambilan keputusan baik di tingkat pengurus wilayah ataupun pengurus pusat untuk melakukan persuasi jarak dekat. 

Bayangkan bila semua calon kepada daerah--lengkap dengan tim intinya-- dalam beberapa minggu terakhir bergerak ke kantor pusat partai politik di Jakarta.

Mereka berada di sana selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.  

Berapa perputaran rupiah yang terjadi di Jakarta untuk semua komponen pembiayaan di atas?

Teten Masduki dalam catatan “Electoral Corruption” pernah mengingatkan adanya empat terminal rawan yang bisa menghalangi pilkada langsung untuk melahirkan pemimpin yang legitimate, salah satunya adalah terminal transaksi pengusungan kandidat atau candidacy buying. 

Dalam kondisi yang sudah sangat pragmatic hampir semua partai politik memilih calon usungan dengan mempertimbangkan hasil survey public dan aspek elektabilitasnya. 

Namun yang tidak kalah strategisnya mereka juga memperhatikan aspek kontribusi finansial oleh kandidat untuk setiap kursi pendukungan dan benefit-benefit langsung lainnya yang menjadi hak partai pengusung. 

Sayangnya kerja-kerja yang terukur itu tidak memberikan jaminan yang absolut. 

Adalah fakta bahwa tidak semua kerja-kerja politik akan membuahkan hasil seperti yang dikehendaki. 

Tidak mungkin SK nominasi diberikan kepada semua kontestan. 

Hanya ada satu orang yang akan dipilih oleh otoritas partai politik, dan sialnya keputusan itupun tidak selamanya berlandaskan pada kalkulasi-kalkulasi yang objektif. 

Catatan itu sepertinya mengaminkan satu penggalan lirik yang dilantunkan oleh Adele “sometime it last in love sometime it hurts instead” seringkali hubungan yang dibangun dan telah melewati serangkaian proses itu berakhir bahagia, tetapi seringkali juga akhir kisahnya akan meninggalkan rasa kecewa dan sakit hati.

Merawat Harapan

Inilah balada berburu SK menuju Kontestasi Pilkada. 

The art of whole possibilities, seni untuk segala kemungkinan.

Lalu apa yang tersisa bagi mereka yang tidak mendapatkan pinangan? 

Seorang politisi sejati tentu tidak akan berhenti dan akan mencari alternatif perahu politik lain. 

Ada potensi bahagia dan ada potensi luka yang harus dirawat dengan sikap optimistis dan penuh harapan.

Merawat harapan adalah salah satu jenis resiko psikologis dalam proses kontestasi. 

Sejak awal setiap kontestan berharap untuk dijagokan oleh partai politik, dan setelah dijagokan ia berharap mendapat tempat di hati pemilih. 

Lalu semua berjalan sesuai harapan hingga ke Pleno Pelantikan.

Dalam perspektif psikologi, berpengharapan adalah pengalaman emosi yang sangat manusiawi. 

Lahir dari proses tidak sadar disaat menvisualkan tujuan, lalu dalam sepersekian detik terbentuklah satu keinginan. 

Sebagai bagian dari kategorisasi kognisi, perilaku berharap ini merupakan proses kalkulatif antara nilai dan potensi; kian besar nilainya, dan kian tinggi peluangnya, maka kian besar pengaruh positif yang ditimbulkan. 

Pada titik ini harapan melahirkan motivasi. 

Baca juga: Kegagalan Tu Sop Jadi Wakil Mualem, Dampak Serius bagi Ulama dan Umat, Apa yang Mesti Dilakukan?

Sebutlah Fenomena Kabin Pesawat (Aircraft Cabin Phenomenon) sebagai contoh. 

Sesaat setelah pesawat landing dan berhenti di terminal kedatangan, sesegera itu seluruh penumpangpun berdiri, mengambil tas dan bersiap-siap untuk turun. 

Ini fenomena menarik karena semua memilih berdiri selama 15 hingga 20 menit menunggu pintu dibuka dan sebagian mereka berada di kursi paling belakang. 

Peristiwa berdiri ini lahir dari proses kognisi dimana setiap penumpang tahu apa yang akan dituju dan yakin ia akan bisa mendapatkan sesuai dengan apa yang diinginkannya. 

Makanya pilihan berdiri hingga lima belas menit bukanlah masalah besar. 

Kalkulasi antara nilai dan peluang sudah jelas.  

Namun, harapan akan berubah menjadi rasa cemas, dan membuat lemas, bila yang dijadikan tujuan bernilai besar sementara potensi untuk mencapainya kecil. 

Rencana besar, namun dari awal sudah bisa dipastikan tak akan terpenuhi. 

Maka lambat laun siapapun akan menarik diri, melepaskan semua impian yang semula sangat diharapkannya. 

Pilihan mundur adalah lebih baik bagi menstabilkan disonansi kognisi. 

Sikap mundur mencitrakan bahwa seseorang tetap memiliki kontrol atas plihannya, dan ini jauh lebih bernilai daripada melanjutkan kontestasi dalam ketidakpastian. 

Kalkulasi antara nilai dan peluang juga jelas di sini. 

Harapan juga bisa berwajahkan frustasi. 

Wajah ini hadir dalam kegagalan mencapai tujuan yang nilainya besar, sementara potensi untuk mencapainya juga besar. 

Wajah frustasi hadir bila kegagalan itu dibumbui oleh persepsi kesengajaan; produk akal-akalan dari pihak tertentu. 

Hadir di dalam benak mereka usaha menggagalkan yang dilakukan secara terencana oleh otoritas partai. 

Muaranya adalah sikap agresivitas terbuka, demo bahkan perusakan fasilitas, atau yang paling ringan adalah sikap boikot.

Itulah sulitnya berharap. 

Berharap tak sesederhana kontrol atas perilaku diri sendiri tetapi juga butuh pada terbangunnya kesamaan persepsi dengan pihak lain. 

Kita boleh berencana, menginvestasikan fikiran dan strategi, namun catatan di benak orang lain belum tentu sama. 

Mengontrol pikiran dan tindakan sendiri saja sulit, konon lagi kalau kita harus mengontrol pikiran dan tindakan orang lain.

Kultur politik memang relatif cair dan penuh ketidakpastian. 

Siapapun yang memilih jalan ini maka harus membiasakan diri dengan skema dan kultur yang ada. 

Seperti bunyi adagium populis yang mengatakan bahwa dalam politik tidak ada lawan abadi dan juga tidak ada kawan yang abadi. 

Semua berjalan dalam irama dinamis dan cair. 

Politik tidak mengenal konsep baperisme.

Kerja- kerja membangun lobi juga harus terus diupayakan hingga titik dimana keputusan yang dibuat sudah mengikat secara regulasi. 

Tidak ada kata final dalam membangun lobi politik. 

Jangan heran bila ada keputusan-keputusan politik yang berubah di menit-menit terakhir.

Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa harapan harus diatur dan dikendalikan, karena harapan yang berlebihan hanya akan meninggalkan jejak frustasi, membangun sensitivitas yang tidak rasional.

Ini juga yang menjadi alasan kenapa setiap politisi membangun lobi dengan cara yang tertutup dari pantauan publik. 

Mempublikasi proses pada satu sisi adalah bagian dari propaganda kepada kontestan yang lain, namun pada sisi yang lain juga berpotensi meninggalkan kesan jejak-jejak pecundang yang menurunkan tingkat elektabilitas di mata pemilih.

Menarik juga membaca motto pasukan Raider; Lakukan dengan cepat, senyap dan tepat. 

*) PENULIS adalah Direktur Kajian Elektoral – ESGE Center.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved