KUPI BEUNGOH

Guru sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa: Masih Relevankah?

Namun, di era modern ini, penting untuk mengkritisi: apakah frasa ini masih relevan, atau justru mengabaikan kebutuhan mendesak akan pengakuan nyata

Editor: Yeni Hardika
SERAMBINEWS.COM/HO
Nora Maulida Julia SPd, Pengurus Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh. 

Oleh: Nora Maulida Julia, SPd*)

Sejak kecil kita sudah mengetahui bahwa guru merupakan profesi yang sangat mulia dan luhur.

Jasa, peran, dedikasi, dan pengorbanan mereka dalam mencerdaskan anak bangsa sangat begitu luar biasa, tanpa mengharapkan imbalan setara atas usaha mereka.

Bahkan, ketika datang kabar tentang kesuksesan peserta didiknya di masa lalu, guru tidak pernah menuntut sesuatu apapun untuknya, hanya rasa bangga dan ikhlas yang memenuhi hatinya. 

Oleh karena jasa dan peran guru yang begitu besar untuk bangsa dan negara, maka guru layak disebut sebagai “pahlawan”.

Di sisi lain mereka tidak merasakan penghargaan yang setara seperti pahlawan nasional lainnya, maka sering kali guru disebut sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda jasa”.

Namun, di era modern ini, penting untuk mengkritisi: apakah frasa ini masih relevan, atau justru mengabaikan kebutuhan mendesak akan pengakuan nyata terhadap profesi guru?

Baca juga: Perempuan di Belakang Layar Pilkada Aceh

Guru sebagai Pilar Peradaban

Peran guru di era modern dan digitalisasi dewasa ini semakin kompleks, guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan.

Guru dituntut agar “lebih ekstra” dalam membina karakter siswa. Guru juga berperan sebagai pemandu moral dan pelopor perubahan sosial.

Setiap kesuksesan individu tidak terlepas dari kontribusi guru di masa lalunya.

Berkat segenap keikhlasan, keyakinan, ikhtiar, kesabaran, do’a, dan pengorbanan sang guru, terbukalah jalan-jalan menuju kesuksesan bagi anak didiknya dan menjadi pelita dalam kegelapan bagi generasi yang berdaya saing serta berakhlak mulia.

Namun, di tengah pengabdian mereka untuk negeri tercinta ini, hingga saat ini masih banyak guru yang tidak mendapatkan imbal jasa yang layak.

Banyak sekali tantangan yang dialami oleh guru ketika harus mengupayakan loyalitas yang terbaik.

Mulai dari ketimpangan kesejahteraan, terutama di daerah terpencil, hingga tuntutan tinggi di era teknologi, guru kerap kali bekerja dengan fasilitas minim dan pengakuan yang terbatas.

“Keikhlasan adalah Suatu Keniscayaan dan Tanpa Tanda Jasa Bukan Berarti Tanpa Apresiasi”

Keikhlasan seorang guru dalam mendidik merupakan suatu keniscayaan. Begitu pula pada profesi lainnya.

Namun, seakan profesi guru sajalah yang dituntut ikhlas dalam mengabdi dengan mencukupkan apresiasi sekadarnya untuk para guru yang mulia jasanya.

Sebenarnya guru akan lebih ikhlas apabila pengorbanannya dihargai dengan “pantas dan layak”.

Bagaimanapun juga, kerisauan guru terhadap suatu hal akan membebani psikologisnya yang akan berdampak pada kualitas pelayanannya dalam pendidikan. 

Baca juga: Membenahi Regulasi Perlindungan Guru

Ungkapan "tanpa tanda jasa" sering diartikan sebagai wujud penghormatan dan kemuliaan terhadap ketulusan guru dalam mendidik generasi bangsa.

Tetapi, dalam konotasi ini, apakah dengan ungkapan tersebut secara tidak langsung menormalisasikan rendahnya perhatian terhadap kesejahteraan guru?

Di era modern, apresiasi terhadap guru tidak hanya berupa penghormatan verbal semata.

Harus dipahami bersama bahwa kesejahteraan finansial, pelatihan profesional, perlindungan secara hukum, dan fasilitas pendidikan yang memadai adalah bentuk nyata dari "tanda jasa" yang dibutuhkan untuk mendukung peran para guru.

Menghargai guru secara nyata bukan hanya hak mereka, tetapi juga investasi jangka panjang bagi generasi masa depan bangsa.

Peran Guru di Era Digital

Di tengah revolusi teknologi dewasa ini, guru menghadapi banyak tantangan.

Mereka dituntut untuk mencerdaskan intelektual, emosional, spiritual siswa dan juga menguasai berbagai teknologi pendidikan, bersaing dengan sumber belajar digital, dan tetap relevan dalam membimbing peserta didik di dunia yang terus berubah.

Namun, peran guru sebagai "pemandu manusiawi" tetap tak tergantikan oleh apapun sepanjang sejarah.

Kemajuan teknologi tidak akan berbanding lurus dengan kebutuhan manusiawi seperti kasih sayang, ketulusan, cinta, dan pengalaman yang didapati dari teknologi canggih.

Teknologi dapat berbagi informasi lebih cepat, ilmu yang canggih, serta komunikasi yang cepat, tetapi hanya peran guru yang mampu mengajarkan nilai-nilai kehidupan manusia seperti empati, dan kemampuan berpikir kritis.

Guru tetaplah pahlawan, tetapi penghormatan kepada mereka harus ditingkatkan dan lebih dari sekadar ungkapan klise yang menenangkan semata.

Sebagai bangsa yang menghargai dedikasi pendidikan, kita perlu memberikan apresiasi nyata kepada guru melalui kebijakan yang mendukung kesejahteraan guru dan pengakuan atas kontribusi mereka yang tak ternilai harganya.

Baca juga: Patuhi Aturan Masa Tenang Pilkada

"Tanpa tanda jasa" tidak berarti tanpa penghargaan.

Guru layak mendapatkan tempat terhormat dalam pembangunan bangsa, karena dari tangan mereka lahir pemimpin, ilmuwan, dan insan-insan yang membangun masa depan.

Mari menjadikan Hari Guru Nasional sebagai momen untuk tidak hanya mengenang jasa mereka, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan dan dukungan bagi para pahlawan pendidikan ini.

"Selamat Hari Guru Nasional! Terima kasih atas dedikasi dan pengorbananmu yang tanpa batas."

*) PENULIS adalah Pengurus Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved