Opini
Prototipe Politik Aceh
PILKADA Aceh 2024 telah selesai digelar dan KIP telah menetapkan calon pemimpin baru Aceh baik di level provinsi maupun kabupaten/kota.
Pada bulan Ramadhan tahun kedelapan hijriah Rasulullah SAW bersama 10.000 pasukan kaum muslimin melakukan fathu makkah (penaklukan Mekah), tidak ada perlawanan yang berarti dari kafir Makkah, hanya beberapa penjuru kota Makkah saja terjadi perlawanan dari pasukan kafir. Ada ketakutan yang mendalam di kalangan kafir saat itu bahwa Nabi datang untuk membalas dendam. Namun ketakutan itu justru hilang karena sesaat setelah kemenangan Beliau menyampaikan pidatonya bahwa kami datang dengan kasih sayang dan cinta tidak ada permusuhan dan dendam masa lalu.
Padahal sebagaimana diketahui sejak beliau diangkat menjadi Rasul menyampaikan dakwahnya selama 13 tahun di kota Makkah, Beliau dengan para sahabat dizalimi dan diboikot secara ekonomi ditambah lagi kekejaman mereka ketika Perang Uhud terjadi setelah 3 tahun hijrah ke kota Madinah dimana sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi) syahid dalam kondisi yang sangat mengenaskan kondisi jasad yang telah terbelah dadanya dengan jantung dan isi perut terburai keluar tentu keadaan ini membuat Nabi dan para sahabat sangat bersedih.
Fathu Makkah adalah kesempatan Nabi dan para sahabat untuk membalas dendam atas kekejaman kafir Makkah, namun hal itu tak dilakukan Nabi. Akhirnya karena sikap Nabi tersebut membuat banyak penduduk Makkah memeluk agama Islam dan menjadi pendukung setia Nabi Muhammad saw. Sebagaimana Allah menjelaskan dalam surat An Nasr: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan dan engkau melihat manusia berbondong-bondong memeluk agama Islam, maka bertasbihlah dengan memuji tuhanmu dan mohonlah ampunan kepadanya sesungguhnya dia maha penerima taubat.”
Secuil kisah ini sejatinya menjadi contoh sekaligus prototype dalam sikap perilaku bagi setiap pemimpin yang berhasil menang dalam konstelasi politik lalu baik level provinsi maupun kabupaten/kota di Aceh. Intinya Aceh mesti dibangun dengan kebersamaan dan keharmonisan tanpa dendam dan kebencian. Kolaborasi dan sinergi dengan semua pihak menjadi sesuatu yang sangat penting dalam membangun Aceh yang lebih baik.
Maka jika tidak, Aceh sampai kapanpun akan stagnan tak berubah (lage-lage soet), malah kata Aceh itu sendiri pun akan terus dipelintir orang yaitu A (tidak) Ceh (menetas) “hana, ceh-ceh” akibatnya kalau diibaratkan sebutir telur justru “kom” dan pada akhirnya akan membusuk. Nah, wallahu ‘alam.
| Transformasi Digital dan Stabilitas Makroekonomi Mesin Penggerak Pertumbuhan Ekonomi |
|
|---|
| Polri sebagai Penopang Harapan di Tengah Bencana |
|
|---|
| Belajar Sabar dari Aceh yang Terluka |
|
|---|
| Saat Pemimpin tak Hadir di Tengah Bencana: Dilema Etika Antara Hak Personal & Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
| Aceh sebagai Pintu Gerbang Perdagangan Internasional, Mengaspirasi Pembangunan Dubai |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Munawar-A-Djalil-MA-Baru-Bgt.jpg)