KUPI BEUNGOH
Meugang: Kapan Harus Beli Daging?
Daging yang tidak sehat dapat ditandai dari perubahan yang terjadi pada warna, bau/aroma, konsistensi dan permukaan daging.
Oleh: Azhar Abdullah Panton*)
Bulan suci Ramadan sudah di depan mata. Masyarakat Aceh selalu mendahuluinya dengan hari Meugang.
Tradisi yang hanya berlaku di Aceh ini sudah berlangsung sejak era Kesultanan Aceh dibawah kekuasaan Sultan Iskandar Muda.
Tidak seperti hari biasa, saat Meugang, setiap sudut Tanah Rencong ini dihiasi dengan pemandangan pemotongan ternak sapi dan kerbau secara massal, termasuk di instansi pemerintah maupun swasta.
Di hari ”sakral” ini masyarakat berbondong-bondong mendatangi tempat-tempat penjualan daging dadakan yang dapat dijumpai di setiap pelosok Aceh.
Hampir semua orang membeli daging untuk dikonsumsi bersama keluarga, diantar ke rumah orang tua atau mertua.
Bagi yang dermawan juga memberikan kepada tetangga atau lembaga-lembaga sosial seperti panti asuhan.
Nah, kapan harus beli daging Meugang agar tetap segar, sehat, dan bergizi?
Karakteristik Daging
Daging adalah bahan makanan bergizi tinggi, tapi mudah rusak dan berpotensi mengandung bahaya.
Sebab itu, daging harus ditangani dengan baik dan higienis. Jika penanganan daging tidak benar, maka berpotensi menyumbangkan ribuan kuman per menit.
Kuman dalam daging dapat bertambah setiap 20 menit (Pribadi, E.S., 2000).
Pada suhu kamar (ruang terbuka) daging hanya bertahan selama satu atau dua jam.
Baca juga: Jelang Meugang Ramadhan, Harga Daging di Pasar Lambaro Rp 150.000 per Kg
Setelah itu proses pembusukan mulai terjadi jika tidak segera diolah atau disimpan sebagaimana mestinya.
Cepat tidaknya pembusukan daging juga dipengaruhi oleh perlakuan sebelum sapi/kerbau disembelih.
Sapi/kerbau yang tidak cukup istirahat (minimal 12 jam, lebih baik 24 jam) dan diperlakukan kasar, akan menghasilkan daging yang berkualitas rendah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kupi-Beungoh-Azhar-Abdullah-Panton.jpg)