Kajian Kitab Kuning

Anak Melawan Ayah Demi Membela Ibu, Apakah Termasuk Durhaka? Ini Hukumnya Menurut Tgk Alizar Usman

Tgk Alizar dalam penjelasan tertulisnya, memberikan dua pandangan hukum. Dalam Islam, kewajiban berbakti kepada ibu lebih didahulukan dibandingkan

Penulis: Yeni Hardika | Editor: Agus Ramadhan
Generate by AI
PERTENGKARAN KELUARGA - Ilustrasi seorang remaja lelaki melawan ayahnya demi membela sang ibu hasil olah kecerdasan buatan Meta AI, Minggu (9/3/2025). Berikut penjelasan Tgk Alizar Usman soal hukum anak melawan ayah demi membela ibu dalam pandangan Islam. (Generate by AI) 

Berkaitan dengan persoalan ini, Anggota Dewan Pembina Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, Tgk Alizar Usman SAg MHum telah memberikan penjelasannya.

Baca juga: Puasa Tapi Masih Chattingan dan Video Call dengan Lawan Jenis? Ini Hukum dan Dampaknya Pada Puasa

Penjelasan dari Alumni Dayah Istiqamatuddin Darul Muarrif, Lam Ateuk dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini disampaikan menjawab pertanyaan Serambinews.com pada Sabtu (8/3/2025).

Berikut penjelasan lengkap Tgk Alizar Usman soal hukum anak melawan ayah karena membela ibu.

Hukum anak melawan ayah demi bela ibu

Tgk Alizar dalam penjelasan tertulisnya, memberikan dua pandangan hukum.

Dalam Islam, kewajiban berbakti kepada ibu lebih didahulukan dibandingkan ayah.

"Pada dasarnya taat kepada ibu lebih didahulukan daripada ayah," terang Tgk Alizar.

Hal ini juga didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ رواه البخاري ومسلم

Artinya: Dari Abu Hurairah RA, "Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, 'Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?' Nabi SAW menjawab, 'Ibumu!' Dan orang tersebut kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi SAW menjawab, 'Ibumu!' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi?' Beliau menjawab, 'Ibumu.' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi SAW menjawab, 'Kemuidan ayahmu.'" (HR Bukhari dan Muslim).

Baca juga: Istri Tikam Suami dengan Pisau di Flores Timur NTT, Pelaku Ditangkap Usai Kabur 6 Hari, Ini Motifnya

Disisi lain, meski berbakti kepada ibu lebih utama, Islam juga menegaskan bahwa taat kepada manusia tidak boleh mengarah pada kemaksiatan kepada Allah.

Tgk Alizar menjelaskan, perlu juga untuk melihat ketaatan ibu kepada Allah SWT, apakah ia telah berbuat maksiat.

"Misalnya justru ibu berbuat zalim kepada si ayah. Kalau dalam kasus seperti ini tidak wajib taat kepada si ibu," terang Tgk Alizar.

Situsai seperti ini sesuai juga digambarkan dalam sebuah kaidah islam yang menyatakan tidak ada taat kepada makhluk untuk maksiat kepada Allah. 

لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق

Artinya : "Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Sang Pencipta."

Oleh karena itu, sambung Tgk Alizar, jika seorang anak menghadapi konflik dengan kondisi dalam uraian sebelumnya, maka langkah yang harus dilakukan si anak adalah bagaimana hak ibu bisa dioptimalkan, sekaligus tanpa melawan sang ayah. Wallahuaklambisshawab.

(Serambinews.com/Yeni Hardika)

BACA BERITA LAINNYA DI SINI

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved