KUPI BEUNGOH
Idul Fitri, Kopi Aceh, “Dopamin”, dan Rasionalitas
Bagi sebagian besar masyarakat Aceh, paling kurang sampai hari ini, yang namanya minum kopi itu, ya kopi yang dibuat, dan diminum di kedai.
Posisi itu tidak berhenti sebagai sejarah, ettapi terus berlanjut sampai dengan hari ini.
Ada “biokimia kopi” dan ada “kimia sosial” kedai kopi yang menyatu yang membuat peminumnya terpaut.
Ada “dopamine” yang yang dilecut oleh “caffein” yang menemukan momentumnya dalam ruang publik.
Bila kopi, kedai kopi, dan peminum kopi dikaitkan dengan istilah statistik “perkapita”-perorang, secara nasional, hampir dapat dipastikan Aceh berada pada posisi papan atas.
Gejala terakhir juga semakin menunjukkan pengunjung wanita ke kedai kopi Aceh semakin meningkat- bahkan di kawasan pedesaan sekalipun.
Sementara itu, pertumbuhan jumlah kedai kopi juga naik dengan cepat.
Dalam perkembangannya, kopi, dan kedai kopi Aceh, kemudian mulai bersentuhan dengan “perkopian global”.
Mulai ada istilah espreso-singgle atau doubel, americano, latte, capuchino.
Mulai ada mesin pembuat kopi yang dijaga oleh barista.
Selanjutnya, walaupun masih banyak kedai kopi yang kotor- dalam kedai, dapur kopi, dan toilet, sudah ada beberapa yang higynenya lumayan. Ada pula innovasi lokal yang menarik seperti “sanger” dan “kopi aren”.
Tanpa terasa kopi dan kedai kopi Aceh terpapar sudah dengan modernitas dan gelombang globalisasi dengan segala aspek kehidupan.
Minum kopi kini sudah menjadi gaya hidup kolosal.
Ada elemen budaya lain yang utuh, atau sudah mengalami proses penyesuaian.
Ada kepastian rasa dari mesin yang lebih akurat, ada profesionalitas -bahkan dalam menyangrai, menggiling, dan meyeduh.
Uniknya hampir semua elemen yang menyangkut dengan gaya hidup yang bersentuhan dengan kopi, yang ada di berbagai tempat lain di dunia sudah mulai terasa di Aceh.
| Dedy Tabrani di Mata Aktivis HMI: Polisi Masa Depan yang Menjaga dengan Ilmu dan Iman |
|
|---|
| Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat, Dari Masjid Gerakan Perubahan Dimulai - Bagian IV |
|
|---|
| Kesaksian dari Muraya: Ketika Solidaritas Fiskal Lampaui Batas Provinsi - Cerita Mendagri di APEKSI |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 11, Pertemuan Islamabad Jilid Dua, Menuju Perdamian |
|
|---|
| 821 Tahun Banda Aceh : Menghidupkan Kembali Semangat Kota Tamaddun Kekinian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Humam-Gerindra-Total-ke-Capres-Prabowo-Partai-Pendukung-Lain-di-Pusat-pun-Tak-Kerja.jpg)