Kupi Beungoh
Karantina Haji Sabang: Wisata Religius dan Historis Identitas Indonesia
Gedung karantina Haji merupakan tempat transit bagi jamaah haji yang akan berangkat ke tanah suci melalui jalur laut kala itu.
Oleh Faquwinta *)
Di ujung barat Indonesia, tepatnya di Pulau Weh, Kota Sabang, berdiri sebuah situs bersejarah yang menyimpan kisah panjang perjalanan spiritual umat Islam Nusantara yaitu Karantina Haji Sabang.
Situs Karantina Haki sabang yang terletak di Pulau Rubiah, Gampong Iboih, Kecamatan Suka Makmue, Kota Sabang ini tak hanya menjadi saksi bisu arus perjalanan haji masa lalu, tempat ini kini berkembang menjadi destinasi wisata religius dan historis yang memperkaya wawasan, menyentuh jiwa dan memperkuat identitas kebangsaan.
Jejak Haji di Tanah Sabang
Pada masa kolonial Belanda, jemaah haji Indonesia yang pulang dari Tanah Suci melalui jalur laut diwajibkan singgah di Sabang untuk menjalani proses karantina.
Tujuannya adalah manasik haji dan memeriksa kesehatan mereka dan mencegah penyebaran penyakit menular seperti kolera dan penyakit lain yang marak saat itu.
Gedung karantina Haji merupakan tempat transit bagi jamaah haji yang akan berangkat ke tanah suci melalui jalur laut kala itu.
Para jemaah terlebih dahulu menginap di pulau rubiah sebelum nantinya yang akan di antar menuju kapal yang besar.
Selama karantina, merekw mendapatkan pengetahuan agama, manasik haji dan perwatan kesehatan.
Gedung karantina haji pada masa itu menyediakan berbagai fasilitas lengkap seperti penginapan, rumah sakit,laundri,kamar mandi dan fasilitas penerangan.
Proses ini merupakan bagian penting dari protokol internasional yang diberlakukan di jalur pelayaran global.
Namun lebih dari itu, Karantina Haji Sabang menjadi tempat pertemuan lintas budaya dan daerah.
Di sinilah umat Islam dari berbagai penjuru Nusantara saling bertukar pengalaman spiritual, membentuk jejaring sosial keagamaan, bahkan merintis embrio pemikiran kebangsaan yang kelak menginspirasi perjuangan kemerdekaan.
Menelusuri Situs Karantina
Saat ini, pengunjung masih bisa menyaksikan sisa-sisa kompleks karantina, seperti:
bangunan karantina utama, rumah petugas kesehatan, ruang pemeriksaan dan isolasi, dermaga tua yang menjadi titik awal masuknya para jemaah ke tanah air.
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Faquwinta-Mahasiswi-Prodi-Hukum-Ekonomi-Syariah-HES.jpg)