KUPI BEUNGOH
Mengulik Buku, Meraup Ilmu
Minat baca warga Indonesia masih sangat rendah. UNESCO menyebutkan, indeks minat baca warga Indonesia hanya 0,001 persen.
Oleh: Siti Amira Mardhatillah*)
Buku belum begitu menarik bagi sebagian besar warga Indonesia.
Padahal, buku yang sering diibaratkan sebagai ‘jendela dunia’ merupakan sumber ilmu pengetahuan dan informasi yang dapat membentuk pola pikir dan budaya suatu bangsa.
Saat ini warga masih terpaku pada budaya melihat, berbicara dan mendengar, bukan budaya baca.
Banyak orang lancar dan betah mengobrol serta berceloteh berjam-jam lamanya, tapi akan sangat lelah dan membosankan jika harus membaca atau menulis.
Budaya ini telah menghasilkan warga yang berpikiran dangkal dan mengambang (floating thinking).
Disamping itu, banyaknya sarana hiburan, permainan, dan tayangan televisi telah menggiring warga ke budaya menonton.
Lebih-lebih di era digital saat ini, telah menjerumuskan sebagian besar warga dalam budaya ‘scroll’ dan ‘like’.
Layar gawai ibarat candu yang melenakan penggunanya dalam lautan informasi yang miskin makna.
Membaca buku telah tergantikan oleh informasi singkat dan video viral yang serba instan.
Mirisnya lagi, generasi muda, bahkan orang tua pun kini telah terpapar dengan aktivitas nge-game dan judi online (judol).
Di tahun 2024 tercatat 8,8 juta warga Indonesia bermain judol, dimana 80 persennya adalah masyarakat bawah dan anak muda.
Minat Baca
Minat baca warga Indonesia masih sangat rendah. UNESCO menyebutkan, indeks minat baca warga Indonesia hanya 0,001 persen.
Ini bermakna, dari seribu orang Indonesia, hanya satu orang saja yang rajin membaca.
Dalam setahun, rata-rata warga Indonesia hanya menggunakan waktu 129 jam untuk membaca buku.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Siti-Amira-Mardhatillah-Kupi-Beungoh.jpg)