Kupi Beungoh
Dijerat Layar: Saat Scrolling Mengganti Fokus dan Realita
Tidak jarang kita menjadikan scrolling sebagai bentuk “istirahat” dari pekerjaan, tanpa menyadari bahwa waktu berjalan begitu cepat.
Oleh : Farah Novilianti Irawan *)
Sudah berapa jam Anda scrolling hari ini? Seberapa sering Anda membuka media sosial hanya untuk melihat satu dua hal, namun berakhir dengan mengabaikan tugas yang seharusnya diselesaikan?
Tidak jarang kita menjadikan scrolling sebagai bentuk “istirahat” dari pekerjaan, tanpa menyadari bahwa waktu berjalan begitu cepat.
Tiba-tiba satu jam berlalu, dan pekerjaan pun tertunda.
Fenomena ini semakin umum terjadi seiring berkembangnya tren media sosial terutama karena fitur infinite scrolling yang membuat kita terus terjebak dalam konsumsi konten tanpa henti.
Video pendek seperti reels berdurasi 15–60 detik memberi kesan seolah-olah tidak akan menyita waktu.
Namun, saat satu video terasa kurang menarik, kita langsung menggulir ke video berikutnya. Tanpa sadar, waktu telah berlalu hingga 30 menit, 1 jam, bahkan lebih.
Para ahli menyebut bahwa infinite scrolling bekerja mirip dengan mesin judi.
Aplikasi memanfaatkan algoritma yang menyajikan campuran konten sebagian menarik, sebagian tidak untuk membentuk pola kebiasaan mencari yang tak pernah selesai.
Penelitian menunjukkan bahwa peluang menemukan konten yang benar-benar kita sukai hanya sekitar 60 persen.
Akibatnya, kita terus menggulir layar, berharap menemukan sesuatu yang memuaskan, hingga akhirnya terjebak dalam lingkaran tanpa akhir.
Kecanduan reels ini terbukti memengaruhi fokus. Studi menunjukkan bahwa pengguna aplikasi video pendek seperti TikTok cenderung memiliki rentang perhatian yang lebih pendek dibandingkan mereka yang tidak menggunakannya.
Lebih dari itu, banyak pengguna merasa seolah “terputus” dari realitas sekitar saat menonton video.
Ketika terlalu lama mengonsumsi konten singkat, seseorang bisa menjadi lebih emosional, sulit berkonsentrasi, dan mudah terdistraksi dalam kehidupan sehari-hari.
Mengapa hal ini bisa membuat kecanduan? Salah satunya karena peran dopamin, zat kimia di otak yang berkaitan dengan rasa senang dan motivasi.
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Farah-Novilianti-Irawan.jpg)