Kupi Beungoh
Dijerat Layar: Saat Scrolling Mengganti Fokus dan Realita
Tidak jarang kita menjadikan scrolling sebagai bentuk “istirahat” dari pekerjaan, tanpa menyadari bahwa waktu berjalan begitu cepat.
Ketika kita menerima notifikasi atau melihat like dan komentar, otak memberikan lonjakan dopamin yang menimbulkan perasaan senang.
Media sosial memanfaatkan sistem penghargaan acak—seperti yang digunakan dalam perjudian untuk mendorong pengguna terus kembali.
Namun, efek dopamin ini bersifat sementara. Lama-kelamaan, otak membutuhkan rangsangan yang lebih besar untuk merasa puas, sehingga pengguna terus-menerus scrolling.
Akibatnya, kemampuan untuk merasakan kepuasan dari aktivitas dunia nyata menurun, dan kita pun lebih mudah menunda atau menghindari tugas yang terasa kurang “menyenangkan”.
Masalah ini tidak memandang usia. Pada anak-anak usia sekolah, kecanduan konten video dapat menurunkan minat membaca dan belajar.
Otak mereka menjadi terbiasa dengan rangsangan instan dan sulit bertahan dalam aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih panjang.
Sementara pada orang dewasa, penelitian menunjukkan bahwa mereka yang kecanduan video pendek cenderung lebih sulit merasakan kepuasan dalam hidup, kurang bahagia, dan memiliki tantangan dalam menjalin komunikasi sosial.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat berdampak pada kesehatan mental, termasuk risiko depresi.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Menghentikan kebiasaan ini tentu tidak mudah, tapi bukan berarti mustahil. Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba:
1. Batasi waktu layar. Pasang pengatur waktu (screen time) pada aplikasi yang paling sering Anda gunakan.
2. Alihkan perhatian ke aktivitas yang membangun. Temukan hobi seperti membaca, berolahraga, atau menonton konten edukatif berdurasi panjang.
3. Hindari ponsel sebelum tidur. Biasakan untuk tidak menggunakan ponsel minimal 30 menit sebelum tidur dan juga setelah bangun tidur. Ini dapat menurunkan tingkat stres dan membantu memulai hari dengan lebih positif.
4. Buat jadwal harian yang jelas. Dengan memiliki agenda yang terstruktur, Anda dapat mengurangi ruang kosong yang biasanya diisi dengan scrolling tanpa arah.
Pembahasan tentang bahaya scrolling mungkin terdengar sepele.
Namun jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini bisa membentuk karakter: sulit fokus, mudah menunda, dan kehilangan makna dari waktu yang dijalani.
Jangan sampai Anda menjadi orang yang sibuk menggulir layar, namun perlahan kehilangan kendali atas hidup sendiri.
*PENULIS adalah Staf Dept PSDM GEN-A & Mahasiswa Pendidikan Dokter FK USK
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Farah-Novilianti-Irawan.jpg)