Meuseuraya Akbar 2025

Menyelamatkan Khazanah Sejarah Aceh

Mapesa mengungkap maraknya penjualan benda peninggalan sejarah Aceh ke luar negeri, seperti Malaysia dan Brunei, karena tawaran harga yang tinggi. Hal

Editor: mufti
FOR SERAMBINEWS.COM
pembukaan acara Meuseuraya Akbar di Gedung Meusapat Ureung Pidie, Minggu (26/5/2025) malam. 

Mapesa mengungkap maraknya penjualan benda peninggalan sejarah Aceh ke luar negeri, seperti Malaysia dan Brunei, karena tawaran harga yang tinggi. Hal ini menyebabkan publik kehilangan akses.

Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) menemukan banyak benda peninggalan sejarah Aceh di jual ke luar negeri, karena pemilik tergiur dengan harga tinggi. Sehingga peninggalan sejarah Aceh yang telah berpindah tangan tersebut tidak lagi bisa diakses publik.

Ketua Mapesa, Mizuar Mahdi, kepada Serambi, Minggu (25/5/2025) malam, mengatakan, hasil temuan Mapesa, sangat banyak benda peninggalan sejarah Aceh telah dijual masyarakat. Berbagai benda bersejarah peninggalan kerajaan Aceh telah dijual pemiliknya ke luar negeri. 

Menurutnya, pemikik nekat menjual peninggalan sejarah, karena tawaran dari luar negeri cukup menggiurkan. Benda peninggalan sejarah Aceh dijual ke Malaysia dan Brunei Darussalam. Publik tidak bisa mengakses sama sekali terhadap benda bersejarah yang telah dijual ke luar negeri. Jika diperbolehkan mengakses, tentunya harus membayar dengan harga tinggi.

"Tapi jika koleksi manuskrip dipegang kolektor secara pribadi, maka tidak bisa diakses lagi karena sangat privasi," kata Mizuar disela-sela pembukaan Meuseuraya Akbar 2025 Pidie, di Gedung Pertemuan Pidie, Minggu (25/5/2025).

Menurutnya, saat ini koleksi peninggalan sejarah yang ditampilkan pada pameran tidak mencapai lima persen yang berhasil ditulis dan diungkap. Untuk itu, peneliti harus melakukan riset terhadap bukti-bukti sejarah tersebut agar penulisan sejarah Islam khususnya di Pidie, maupun di Asia Tenggara secara umum untuk ditulis kembali kesahihannya. 

Kata Mizuar, dominan benda peninggalan sejarah yang ditampilkan di pameran berasal dari Kabupaten Pidie. Benda sejarah tersebut telah disortir semuanya di mesium, yang merupakan warisan kerajaan Pedir di Pidie. Bahkan, di manuskrip muncul sederet nama tokoh besar Pedir, baik ulamanya ataupun tokoh Pedir, sekaligus ditemukan adanya stempel dari kerajaan Pedir. 

"Meski pun ada beberapa manuskrip yang disebutkan dan disalin di makam Almusyarakah, tapi si penulis juga menambalkan berasal dari negeri Pedir," ujarnya. Ia mengungkapkan, proses pengumpulan benda peninggalan sejarah melalui perjalanan panjang. Baik dilakukan dengan ekspedisi, penyilidikan hingga pencarian data-data dari masyarakat. Sehingga benda-benda tersebut bisa dilakukan akuisisi di masyarakat. 

"Juga kita rawat dan kita publikasi sehingga peneliti bisa melakukan riset terhadap benda bersejarah dari kerajaan Aceh. Masyarakat juga harus berperan aktif untuk menjaga kelestarian budaya peninggalan Aceh tempo dahulu. Makanya, Mapesa menggelar Meuseuraya Akbar 2025 di Pidie,” katanya. 

Ia menjelaskan, Meuseuraya dipilih di Pidie, karena kabupaten dengan julukan emping meulinjau itu sangat banyak menyimpan khazanah warisan sejarahnya. Selain itu, peninggalan sejarah banyak ragam. Baik dari sisi arkeologi, batu nisan, manuskrip, geografis, rumah Aceh, meunasah dan masjid. 

Namun, bukti peninggalan sejarah itu, kian hari kian menyusut akibat tidak dipedulikan oleh masyarakat. Makanya, Mapesa melaksanakan kegiatan Meuseuraya sebagai sosialisasi kepada masyarakat, untuk memberitahukan terhadap jejak-jejak sejarah yang patut dijaga. 

Kecuali itu, peninggalan sejarah itu wajib dilestarikan untuk diperlihatkan nantinya bagi anak cucu. Salah satunya, dengan menulis kembali jejak sejarah dengan mengambil bukti yang orisinil sesuai dengan dekade sejarah tersebut. 

Selain itu, masyarakat harus terlibat secara aktif supaya dapat menjadi kekuatan yang mampu mengubah arah kebijakan dan menciptakan perubahan nyata. Pengalaman menunjukkan bahwa masyarakatlah yang sebenarnya mampu membawa perubahan dan kemajuan, terutama dalam isu-isu yang berkaitan dengan sejarah dan budaya.

Untuk itu, peningkatan kualitas pemahaman masyarakat terhadap sejarah harus menjadi prioritas utama. Pemahaman itu tidak hanya akan memperkuat identitas budaya, tapi akan berdampak positif pada berbagai aspek kehidupan, termasuk ekonomi dan sosial. 

Maka lewat program sebagai kegiatan pelestarian rutin yang disebut "Meuseuraya", program itu telah berjalan sejak belasan tahun yang lalu, yang menjadi salah satu pilar utama dalam upaya pelestarian warisan budaya dan sejarah Aceh

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved