Meuseuraya Akbar 2025
Menyelamatkan Khazanah Sejarah Aceh
Mapesa mengungkap maraknya penjualan benda peninggalan sejarah Aceh ke luar negeri, seperti Malaysia dan Brunei, karena tawaran harga yang tinggi. Hal
Meuseuraya, yang dalam bahasa Aceh berarti gotong royong atau kerja sama, diadopsi dari tradisi lokal untuk diterapkan dalam kegiatan pelestarian situs-situs bersejarah. Kata Mizuar, program itu tidak hanya berfokus pada restorasi fisik situs-situs sejarah, tetapi juga memberdayakan masyarakat melalui partisipasi aktif dalam pelestarian budaya. Program Meuseuraya Mapesa diatur dalam enam langkah utama, mulai dari peninjauan awal hingga sosialisasi dan pelaksanaan kerja lapangan.
Langkah pertama melakukan survei dan penelitian untuk menemukan dan menilai lokasi-lokasi bersejarah. Jika layak, langkah selanjutnya adalah mengurus perizinan yang diperlukan dari otoritas setempat.
Setelah itu, sebutnya, masyarakat diajak untuk berpartisipasi melalui pengumuman di media sosial. Pelaksanaan kegiatan melibatkan dokumentasi, pembersihan, dan penataan lokasi bersejarah, yang diikuti dengan observasi mendalam untuk kepentingan penelitian lebih lanjut.
Bupati Pidie, Sarjani Abdullah melalui Plt. Asisten 1 Pemerintahan, Keistimewaan Aceh, dan Kesejahteraan Rakyat, Setdakab Pidie, Safrizal, SSTP, MEc.Dev menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada MAPESA atas penyelenggaraan rangkaian acara Meuseuraya Akbar 2025 Pidie. Dia berharap dengan kegiatan ini bisa menumbuhkan minat dan motivasi generasi muda dalam mengenali serta berpartisipasi aktif dalam merawat dan melestarikan budaya dan sejarah yang ada di Aceh, khususnya di Kabupaten Pidie.
"Oleh karena itu, kita yang mencintai tanah kelahiran Pidie dan Aceh sudah sepatutnya dapat menjaga apa yang telah menjadi warisan leluhur kita. Semoga kegiatan ini menjadi simbol kekuatan kita dalam menjaga warisan sejarah dan budaya kita," ujar Safrizal dalam sambutannya di Gedung Meusapat Ureung Pidie, Minggu (26/5/2025) malam.
Selain pembukaan pameran, rangkaian acara lainnya yang diadakan MAPESA yaitu kegiatan tur anak ke berbagai situs sejarah, seperti ke Makam Sultan Ma’ruf Syah di Gampong Dayah Tanoh, Kemukiman Klibeut, Kecamatan Pidie, dan tur ke Benteng Kuta Asan serta penanaman pohon pada Senin (26/5/2025), lalu workshop kebudayaan yang digelar di salah satu hotel di Kota Sigli pada Selasa (27/5/2025).
Sementara puncak acaranya akan diadakan pada Rabu (28/5/2025), yaitu meuseuraya akbar dan khanduri jeurat yang dilaksanakan di Gampong Cot Geunduek, Pidie. Rangkaian acara Meuseuraya Akbar akan ditutup dengan pelaksanaan duek pakat pada Kamis (29/5/2025) di salah satu hotel di Kota Sigli yang bertujuan untuk melahirkan kebijakan terkait dengan penyelamatan situs bersejarah di Pidie ke depan.(naz)
| Mapesa Gelar Khanduri Jeurat di Pidie, Tradisi di Aceh yang Hampir Punah |
|
|---|
| MAPESA Peringatkan Warisan Sejarah Pidie Sedang Dijarah, Meuseuraya Akbar 2025 Jadi Tindakan Nyata |
|
|---|
| Libatkan 14 Tim Perumus, Meuseuraya Akbar Lahirkan Tujuh Rekomendasi dalam Duek Pakat |
|
|---|
| Pidie Perkuat Identitas sebagai Pusat Peradaban Islam di Asia Tenggara |
|
|---|
| Mapesa Canangkan Desa Cot Geunduek sebagai Gampong Warisan Sejarah Aceh, ini Alasannya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/pembukaan-acara-Meuseuraya-Akbar-di-Gedung-Meusapat-Ureung-Pidie.jpg)