Jurnalime Warga

Belajar Sejarah di Museum Aceh

saya bersama ummi saya mengunjungi Museum Aceh yang berlokasi di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah Nomor 10, Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh

Editor: mufti
IST
MUHAMMAD ZHIYAUL AULIA, Santri Kelas 5-D, melaporkan dari Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus 8 Darul Amien,  Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar 

MUHAMMAD ZHIYAUL AULIA, Santri Kelas 5-D, melaporkan dari Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus 8 Darul Amien,  Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar

Selasa lalu, tepat pukul 10.00 WIB, saya bersama ummi saya mengunjungi Museum Aceh yang berlokasi di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah Nomor 10, Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh.

Kami membayar tiket masuk yang tergolong murah. Untuk anak-anak 3.000 rupiah, dewasa 5.000 rupiah, dan tamu asing 15.000 rupiah.

Jadwal kunjungan dimulai dari pagi mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Jam kunjung siang mulai pukul 14.00-16.15 WIB.

Pemandu Museum Aceh, Bapak Henry Marviza S.Psi mengatakan, banyak wisatawan asing yang berkunjung ke tempat ini, misalnya dari Korea, Amerika Serikat, Prancis, dan Malaysia.  Pengunjung terbanyak berasal dari Malaysia. Mereka datang dengan tiga bus pada hari saya berkunjung. Bahkan, ada pengunjung yang berusia tua.

Pengunjung domestik dari 23 kabupaten/kota di Aceh, yang datang ke museum ini mulai dari anak PAUD, TK, SD, SMP, hingga SMA. Ada juga mahasiswa magang dari Program Studi Pendidikan Sejarah di Museum Aceh, berasal dari UIN Ar-Raniry maupun Universitas Syiah Kuala (USK).

Menurut Bapak Muhammad Nur Aulia MA, dari Bagian Penelitian Sejarah Aceh, pada awal berdirinya bangunan museum tersebut hanya berupa Rumoh Aceh. Berasal dari Paviliun Aceh di area pameran kolonial di Semarang tanggal 20 Agustus s.d. 15 November 1914.

FW Stammeshous membawa sebagian besar koleksi pribadinya di pameran tersebut dan benda-benda pusaka milik pembesar Aceh. Karena lengkapnya koleksi tersebut, Paviliun Aceh meraih juara 1 dengan perolehan empat medali emas, sebelas perak, dan tiga perunggu.

Stammeshaus kemudian mengusulkan agar Paviliun Aceh dibawa pulang ke Aceh untuk dijadikan museum. Setelah itu, Paviliun Aceh dibongkar dan dibawa pulang ke Koetaradja, kini bernama Banda Aceh.

Museum Aceh yang saat itu diberi nama ‘Atjeh Museum’ pun diresmikan pada 31 Juli 1915 oleh Gubernur Sipil dan Militer Belanda di Aceh, Jenderal Henri Nicolas Alfred Swart, sedangkan Stammeshaus ditunjuk sebagai Kepala Museum Aceh.

Untuk saat ini, Museum Aceh memiliki koleksi sekitar 6.038 benda. Koleksi museum tersebut bisa terus bertambah setiap saat. Koleksi digolongkan ke dalam tiga klasifikasi besar, yaitu anorganik, organik, dan campuran. Bentuk koleksinya, antara lain, berupa piring, batu gamping, andesit, gendang, lempengan emas, meriam, lukisan, dan sebagainya. Tidak hanya itu, Museum Aceh memiliki ribuan koleksi yang terbagi ke dalam sepuluh jenis koleksi, berupa arkeologi, manuskrip, etnografika, seni rupa, geologika, diorama uang, flora, fauna, dan teknologika. Koleksi-kolesi tersebut sebagian besar dipamerkan/di-display pada gedung pameran.

Selain itu, koleksi-koleksi Museum Aceh disebarluaskan dalam bentuk buku-buku ilmiah dalam “Seri Penerbitan Museum Negeri Aceh”. Buku yang telah diterbitkan Museum Aceh berupa Hikayat Aceh, Kesultanan Aceh, Mata Uang Emas Kerajaan-Kerajaan Aceh, Cakra Donya, Cap Sikurueng (Stempel Kesultanan Aceh), dan Rencong Aceh.

Museum Aceh memiliki beberapa gedung lain, yaitu: 1) Rumoh Aceh, 2) Gedung Pameran Tetap, 3) Gedung Pameran Temporer, 4) gedung pertemuan, 5) perpustakaan, 6) laboratorium, 7) galeri, dan 8) rumah dinas.

Di saat memasuki gedung pameran tetap di lantai tiga saya melihat banyak sekali rempah. Aromaya sudah tercium ketika kami mendekat. Terdapat puluhan rempah yang dipamerkan, seperti bungong lawang, lada hitam, lpala, cengkih, manjakani, ketumbar, kemiri, dan kayu manis.

Ada juga kopi, jintan ikan, jintan manis, biji adas, teh, kayu cendana, pinang, kemenyan, kapur barus, jahe merah, jahe putih, lengkuas, kopra, kayu gaharu, kayu damar, kencur, tawas, belerang, minyak pala, minyak kayu cendana, asam sunti, minyak atrisi, serai wangi, cuka ie jok, minyak pliek u, minyak nilam, dan kapulaga. Sungguh  luar biasa Allah memberikan kesuburan tanah Aceh sehingga begitu melimpahnya aneka rempah yang dihasilkan dan merupakan aset Aceh yang sangat berharga.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved