Jurnalime Warga
Belajar Sejarah di Museum Aceh
saya bersama ummi saya mengunjungi Museum Aceh yang berlokasi di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah Nomor 10, Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh
Pada masa Kerajaan Aceh Darussalam dan Kerajaan Samudera Pasai, Aceh pernah berjaya dengan perdagangan rempah. Rempah Aceh bukan hanya menjadi komoditas dagang, melainkan juga menjadi jembatan untuk membangun hubungan bilateral dengan kerajaan-kerajaan lain. Tak heran, Aceh yang berjuluk “Seuramoe Mekkah” menjadi tujuan banyak negara untuk didatangi.
Selain Aceh memang sangat beruntung akan hasil buminya, juga didukung dengan letak geografisnya yang strategis, yakni berada di jalur pelayaran perdagangan internasional. Dari beberapa faktor inilah Aceh kerap disinggahi berbagai kapal dari tiap penjuru mata angin, sehingga nama Aceh tercatat dalam peta perdagangan global dan telah menghubungkan Aceh dengan dunia.
Adapun negara-negara yang singgah ke Aceh saat itu meliputi Portugis, Mesir kuno, Yunani, Romawi, Cina, Arab, dan bangsa lainnya.
Seorang peneliti dari Universitas Negeri Singapura, Sher Banu Khan, menyebutkan bahwa pada abad 16, Aceh merupakan pemain penting perdagangan rempah-rempah dunia, terutama komoditas lada yang sering disebut ”emas hitam”.
Ada tiga alasan mengapa Aceh berperan dalam perdagangan rempah kala itu, yakni 1) posisi geografis yang strategis, 2) pemerintahan yang efisien, dan 3) kecakapan dalam membangun diplomasi dagang.
Di samping itu, Aceh memainkan peran penting sebagai pintu masuk antara Timur dan Barat. Karena menjadi terminal perdagangan rempah dunia khususnya lada, Portugis pun memandang Aceh sebagai saingan berat di Asia lantaran saat itu Aceh mengekspor lada ke Arab lebih banyak daripada Portugis.
Rempah Aceh memiliki banyak manfaat. Pertama, dijadikan sebagai bumbu masakan. Kedua, menghasilkan aroma yang khas. Ketiga, dijadikan bahan dasar pembuatan obat-obatan tradisional.
Sejarah mencatat, pada abad ke-17 dan 18, Aceh sebagai produsen lada terbesar yang menyuplai kebutuhan lada ke berbagai penjuru dunia melalui pelabuhan-pelabuhan di sepanjang pesisir barat-selatan hingga pesisir timur Aceh.
Namun, memasuki medio abad 18, terjadi perubahan pola aktivitas dagang dan perubahan geopolitik yang menyebabkan peran Aceh kian berkurang. Selanjutnya, muncul perusahaan dagang Belanda (VOC) yang menguasai perdagangan di Asia Tenggara.
Belanda sangat ingin menguasai Kerajaan Aceh Darussalam saat itu, karena Aceh menduduki posisi strategis sebagai jalur perdagangan yang menghubungkan daerah Timur dan Barat. Memiliki kerajaan yang kuat dan penghasil komoditas ekspor, khususnya rempah-rempah. Keunggulan-keunggulan inilah yang kemudian menjadikan Kerajaan Aceh sebagai kerajaan penting yang diperhitungkan, dihormati, dan diakui kedaulatannya oleh bangsa kolonialis Eropa.
Setelah lama berada di Gedung Pameran, saya merasa banyak mendapat ilmu dan melihat langsung peninggalan benda-benda kuno peninggalan sejarah Aceh, baik Rumoh Aceh, koleksi benda-benda bersejarah, buku dan kitab, hingga beragam rempah Aceh yang dikenal sampai ke penjuru dunia pada saat itu maupun sampai saat ini. Termasuk melihat beberapa makam raja-raja Aceh yang berada di sekitar lingkungan Museum Aceh.
Tentunya, mempelajari sejarah, khususnya sejarah Aceh, akan lebih menarik dan menjadi edukasi yang baik bila sudah mengunjungi Museum Aceh ini, selain memberikan wawasan bagi generasi Aceh, juga bagi wisatawan dari luar. Soalnya, sejarah merupakan kunci kebaikan di masa depan dan strategi terbaik untuk belajar dari masa lalu. Seperti pesan yang pernah diucapkan oleh Presiden Republik Indonesia pertama Ir Soekarno, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/MUHAMMAD-ZHIYAUL-AULIA-OKE-KALI-YAA.jpg)