Wellness
Lebih Pilih Curhat ke ChatGPT Daripada Manusia? Ini Alasan Remaja Jauh dari Orang Terdekat
Salah satu faktor utama yang menyebabkan remaja lebih memilih chatbot adalah akses yang mudah dan cepat.
Penulis: Gina Zahrina | Editor: Ansari Hasyim
Dalam kondisi ideal, remaja seharusnya memiliki ruang aman untuk berbagi perasaan dengan orang tua, guru, atau teman.
Baca juga: Kenapa Banyak Gen Z Quiet Quitting Stop Lembur? Begini Cara Menjaga Kesehatan Mental di Tempat Kerja
Namun kenyataannya, dukungan emosional dari lingkungan sekitar masih sering minim. Tidak semua orang tua mampu membangun komunikasi yang terbuka dengan anaknya.
Akibatnya, remaja cenderung menarik diri dan mencari pelarian yang netral dan mudah diakses, seperti chatbot.
Firesta juga menyoroti bahwa chatbot sering kali memberikan solusi instan. Bagi remaja yang sedang bingung atau stres, jawaban cepat yang diberikan AI terasa sangat membantu.
Ya meskipun hanya berdasarkan algoritma. Dan ini memperkuat persepsi bahwa chatbot mampu menjadi “penyelesai masalah” yang aman dan tidak merepotkan.
Dampak Negatif Jika Dibiarkan Tanpa Pendampingan
Meski terlihat praktis dan membantu, penggunaan chatbot sebagai tempat curhat juga bisa memunculkan efek negatif:
- Remaja menjadi semakin tertutup dari dunia nyata.
- Kemampuan komunikasi dan empati bisa menurun.
- Risiko kesepian meningkat, karena merasa hanya chatbot yang bisa “mengerti”.
Baca juga: Menganggur Tak Berarti Gagal: 8 Cara Jaga Kesehatan Mental Saat Belum Dapat Pekerjaan dari Psikolog
Firesta menjelaskan bahwa jika remaja terlalu sering menggantungkan diri pada AI untuk kebutuhan emosional, mereka bisa kehilangan kepercayaan pada interaksi sosial nyata.
Ini berbahaya untuk perkembangan psikologis mereka dalam jangka panjang. Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting.
Menurut Firesta, orang tua perlu hadir bukan hanya secara fisik, tapi juga secara emosional dan mendengarkan anak tanpa buru-buru menilai, menghargai perasaan mereka, dan menciptakan ruang aman untuk bercerita.
Hubungan yang kuat antara anak dan orang tua tidak terbentuk dalam semalam, tapi dibangun sejak dini melalui kebiasaan-kebiasaan kecil seperti mendengar dengan penuh perhatian dan menunjukkan empati.
Tips Bijak untuk Orangtua dan Remaja
1. Hadir Secara Emosional
Bangun kedekatan sejak dini. Dengarkan anak tanpa menghakimi dan ciptakan ruang aman untuk bercerita.
2. Atur Penggunaan Chatbot
Diskusikan batasan penggunaan AI. Bahas kapan anak bisa menggunakan chatbot dan kapan perlu bicara langsung dengan orang tua, guru, atau psikolog. Buat aturan yang fleksibel dan terbuka.
Baca juga: Pentingnya Memahami Kesehatan Mental
3. Edukasi Kesehatan Mental Sejak Dini
Ajarkan anak mengenali emosi seperti stres atau cemas, serta pentingnya mencari bantuan dari orang dewasa atau tenaga profesional bila diperlukan.
Pendekatan terbaik bukan melarang anak menggunakan chatbot, tetapi membuka ruang diskusi yang sehat dan nyaman.
Orang tua bisa mengajak anak berdialog mengenai batasan atau apa yang bisa dibicarakan ke AI, dan kapan lebih baik melibatkan manusia seperti orang tua, guru, atau konselor profesional.
Chatbot memang bisa memberi rasa nyaman dan jadi solusi cepat saat remaja ingin bercerita. Namun, AI bukan pengganti kehadiran manusia yang sesungguhnya.
Koneksi emosional dengan orang tua, guru, atau teman tetap menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental remaja.
Di tengah kemajuan teknologi, perhatian dan empati manusia tetap tak tergantikan.
(Serambinews.com/Gina Zahrina)
Apa Itu Smiling Depression? Mengenal Gejala dan Cara Mengatasinya untuk Kesehatan Mental |
![]() |
---|
Jangan Diabaikan! Ini Bahaya Mimpi Buruk untuk Kesehatan Mental dan Fisik |
![]() |
---|
Apa yang Terjadi Jika Kamu Duduk Lebih dari 10 Jam Sehari? Ini Jawaban Mengejutkan Dari Para Ahli! |
![]() |
---|
Sering Pakai Headset atau Earphone? Kenali Gejala Awal Gangguan Pendengaran hingga Kesehatan Mental |
![]() |
---|
Apa Itu Manusia Tikus di China? Psikolog Jelaskan Fenomena Baru Cara Gen Z Melawan Kesehatan Mental |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.