Senin, 15 Juni 2026

Kupi Beungoh

Fenomena Live TikTok dan Pergeseran Nilai di Aceh

Hari ini, pemandangan itu menjadi sesuatu yang biasa. Dari kamar tidur, warung kopi, teras rumah, hingga sudut-sudut desa, siaran langsung TikTok

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/HO
Maturidi S Sos MA, mahasiswa S3 Psikologi UPI YAI Jakarta 

Ketika sensasi menghasilkan gift, sensasi akan terus diproduksi. Ketika kontroversi menghasilkan uang, kontroversi akan semakin sering dipertontonkan. Lama-kelamaan, yang berubah bukan hanya perilaku individu. Yang berubah adalah cara masyarakat memandang keberhasilan.

Hari ini kita hidup di tengah situasi ketika jumlah penonton sering dianggap lebih penting daripada kualitas gagasan. Jumlah pengikut lebih dipuji daripada kedalaman ilmu. Padahal tidak semua yang viral layak diteladani. Di sinilah kekhawatiran terbesar sebenarnya berada.

Yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar kualitas konten media sosial, melainkan cara generasi muda memahami arti kesuksesan. Anak-anak dan remaja hari ini tumbuh dengan layar digital sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Mereka belajar dari apa yang mereka lihat. Mereka mengamati siapa yang dipuji, siapa yang populer, dan siapa yang mendapatkan keuntungan.

Albert Bandura menyebut proses ini sebagai Social Learning. Manusia belajar melalui pengamatan. Apa yang sering dilihat dan diberi penghargaan akan lebih mudah ditiru.

Bayangkan jika setiap hari anak-anak menyaksikan bahwa pertengkaran menghasilkan uang, penghinaan mendatangkan popularitas, dan drama pribadi menjadi sumber penghasilan. 

Pesan apa yang sedang mereka terima tentang kehidupan? Mungkin tidak ada yang secara langsung mengajarkan mereka untuk melakukan hal yang sama. Tetapi teladan tidak selalu datang melalui nasihat. Sering kali teladan hadir melalui apa yang terus-menerus mereka saksikan.

Sebagai masyarakat Aceh, pertanyaan ini menjadi semakin penting. Aceh bukan hanya sebuah wilayah administratif.

Aceh adalah ruang budaya yang dibangun oleh nilai-nilai agama, penghormatan terhadap sesama, kesopanan dalam berbicara, dan rasa malu ketika melakukan sesuatu yang merendahkan martabat diri.

Nilai-nilai itu diwariskan oleh orang tua kepada anak-anaknya, oleh guru kepada muridnya, oleh teungku kepada jamaahnya, dan oleh masyarakat kepada generasi berikutnya.

Namun hari ini, pewarisan nilai itu menghadapi tantangan yang tidak pernah dihadapi generasi sebelumnya. Tantangan itu tidak datang dari luar rumah.

Ia justru hadir melalui layar kecil yang selalu berada di genggaman kita. Yang membuat persoalan ini semakin rumit adalah karena semuanya tampak normal.

Kita menontonnya setiap hari. Kita membagikannya tanpa berpikir panjang. Kita tertawa, memberikan komentar, lalu melupakannya. Padahal, sesuatu yang terus-menerus ditoleransi pada akhirnya akan dianggap biasa.

Dalam perspektif Islam, menjaga kehormatan manusia (hifz al-'irdh) merupakan bagian penting dari tujuan syariat. Karena itu, tidak ada keuntungan ekonomi yang cukup besar untuk membenarkan penghinaan terhadap sesama manusia.

Tidak ada popularitas yang cukup tinggi untuk membenarkan hilangnya rasa hormat terhadap martabat diri sendiri.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
2 - 2
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
1 - 0
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
Live
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved