Kupi Beungoh
Fenomena Live TikTok dan Pergeseran Nilai di Aceh
Hari ini, pemandangan itu menjadi sesuatu yang biasa. Dari kamar tidur, warung kopi, teras rumah, hingga sudut-sudut desa, siaran langsung TikTok
Ketika aib menjadi hiburan, ketika kesulitan hidup menjadi tontonan, dan ketika harga diri dipertukarkan demi gift virtual, sesungguhnya kita sedang kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang. Kita sedang kehilangan kepekaan. Kita sedang kehilangan rasa malu.
Dan yang paling berbahaya, kita perlahan kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang bernilai dan mana yang hanya ramai diperbincangkan.
Karena itu, tantangan kita bukanlah memerangi teknologi. Teknologi akan terus berkembang, dengan atau tanpa persetujuan kita. Yang harus dijaga adalah nilai-nilai yang membimbing penggunaan teknologi tersebut.
Pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, dayah, keluarga, tokoh agama, dan tokoh masyarakat perlu hadir bersama-sama membangun literasi digital yang tidak hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga mengajarkan kebijaksanaan dalam menggunakannya.
Pada akhirnya, masa depan ruang digital tidak ditentukan oleh algoritma semata. Ia juga ditentukan oleh pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari.
Apa yang kita tonton. Apa yang kita dukung. Apa yang kita anggap layak untuk mendapatkan perhatian. Sebab ruang digital pada dasarnya adalah cermin masyarakat itu sendiri.
Jika yang kita beri penghargaan adalah ilmu, kreativitas, dan akhlak, maka itulah yang akan tumbuh. Namun jika yang terus kita rayakan adalah sensasi dan kontroversi, jangan terkejut apabila suatu hari nanti generasi berikutnya menganggap keduanya sebagai jalan yang paling wajar menuju kesuksesan.
Dan ketika hari itu tiba, mungkin yang hilang bukan hanya kualitas konten media sosial kita. Yang hilang adalah sebagian dari nilai-nilai yang selama ini menjadi kehormatan Aceh.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/maturidi-i9i90i.jpg)