Kamis, 4 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Banjir Aceh, Ingatan yang Retak dan Budaya yang Terseret Arus

Jumat, 28 November 2025. Setelah berhari-hari hujan menghantam Aceh tanpa jeda, langit akhirnya menunjukkan sedikit cahaya.

Tayang:
Editor: mufti
Serambinews.com/HO/IST
ICHSAN, M.Sn., Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain ISBI Aceh, melaporkan dari Kota Jantho, Aceh Besar 

ICHSAN, M.Sn., Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain ISBI Aceh, melaporkan dari Kota Jantho, Aceh Besar

Jumat, 28 November 2025. Setelah berhari-hari hujan menghantam Aceh tanpa jeda, langit akhirnya menunjukkan sedikit cahaya. Namun, terang yang lambat datang itu tidak mampu menutupi luka yang telanjur menganga, rumah-rumah penuh lumpur, jembatan patah, listrik padam, akses terputus, internet lumpuh, dan sejumlah gampong terisolasi tanpa kabar. Bahkan, gempa turut mengguncang Aceh di tengah kekalutan.

Dalam laporan resmi yang disampaikan Sekda Aceh sehari sebelumnya pada acara Pengentasan Kemiskinan di Bappeda Aceh, sedikitnya 12 kabupaten/kota telah masuk kategori bencana serius. Ini angka yang mencerminkan skala kerusakan yang luas.

Namun, Aceh, seperti biasanya, menampilkan wajah paradoks. Media sosial menggambarkan keadaan seolah seluruh wilayah berada di ambang kehancuran. Namun, di beberapa titik jalan yang menuju Bandara Sultan Iskandar Muda, kehidupan terlihat berjalan normal. Dua realitas ini menyatu dalam karakter historis masyarakat Aceh yang oleh pepatah lokal disebut “hana galak meuruneng” tidak cengeng. Ketangguhan itu lahir dari sejarah panjang peperangan, konflik politik, dan bencana alam yang tak terhitung jumlahnya.

Namun, ketegaran tidak selalu berarti ketiadaan luka. Ada kerusakan yang tidak tampak oleh mata, tidak tercatat dalam statistik, dan tidak masuk laporan resmi. Ia adalah keretakan budaya.

Setiap bencana besar bukan hanya menghapus benda, melainkan juga menggerus memori dan praktik budaya.

Kerusakan semacam ini berlangsung diam-diam, tetapi dampaknya jauh lebih panjang.

Dalam kerangka teori sosiologi bencana, Émile Durkheim menegaskan bahwa peristiwa ekstrem selalu menggoyahkan kesadaran kolektif, struktur nilai, dan keyakinan yang menjadi perekat masyarakat. Anthony Giddens menambahkan bahwa bencana menciptakan ‘disembedding’, yaitu ketercabutan manusia dari praktik sosial dan budaya yang biasanya memberi mereka orientasi hidup. Sementara itu, Clifford Geertz mengingatkan bahwa “ketika dunia runtuh, simbol-simbol yang menopangnya runtuh terebih dahulu.”

Aceh telah menjadi bukti hidup bagi teori-teori ini. Konflik berkepanjangan mengubah pola interaksi sosial dan cara masyarakat memaknai keamanan. Tsunami 2004 bukan tidak menghapus kota dan manusia, tetapi juga merapuhkan tradisi, ritus, dan ingatan yang sebelumnya tak pernah terdokumentasi.

Sekali memori itu hilang, ia tidak dapat kembali. Banjir kali ini membuka babak serupa.

Kerusakan terhadap sawah mengancam hilangnya budaya agraris yang telah diwariskan turun-temurun. Pengetahuan membaca musim, tanda alam, dan teknik bercocok tanam bukan pengetahuan buku, ia hidup dalam praktik. Bila ruang praktik itu hilang, pengetahuannya pun ikut padam.

Begitu pula tradisi lisan. Jan Vansina, dalam karyanya tentang sejarah lisan Afrika, menegaskan bahwa tradisi lisan bisa punah hanya karena “medium pembawa cerita hilang”, yakni para sesepuh, ruang berkumpul, atau waktu khusus yang digunakan untuk bercerita.

Banjir yang memaksa perpindahan, memutus komunikasi, dan merusak ruang komunal berarti memusnahkan sebagian memori kolektif.

Di Aceh, meunasah bukan sekadar bangunan ibadah, ia adalah ruang sosial, ruang pendidikan, ruang musyawarah, dan tempat identitas budaya direproduksi. Ketika meunasah terendam atau rusak, yang hilang bukan sekadar sebuah bangunan, tetapi seluruh ekosistem budaya yang bergantung padanya.

Keterampilan seni dan kriya yang lahir dari tradisi pun berada di ambang risiko. Richard Sennett menyebut keterampilan itu sebagai ‘embodied knowledge’, pengetahuan yang hidup di tangan dan tubuh, bukan di buku.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved