Jurnalisme Warga
Banjir Aceh, Ingatan yang Retak dan Budaya yang Terseret Arus
Jumat, 28 November 2025. Setelah berhari-hari hujan menghantam Aceh tanpa jeda, langit akhirnya menunjukkan sedikit cahaya.
Begitu ruang berkarya hilang, pengetahuan itu ikut tenggelam. Kerusakan peralatan, bengkel seni, dan bahan-bahan tradisional berarti hilangnya mata rantai keahlian yang telah dibangun bertahun-tahun.
Dalam setiap bencana, media dan pemerintah lebih sibuk menghitung rumah rusak, jalan yang patah, dan jaringan listrik yang mati. Tidak ada laporan resmi yang mencatat hilangnya satu tradisi tutur, rusaknya satu ritus komunal, hilangnya satu dialek gampong, atau punahnya keterampilan kriya.
Padahal, kerugian budaya sering kali lebih fatal, tidak dapat dihitung, dan tidak dapat dipulihkan dalam waktu singkat.
Rumah dapat dibangun kembali dalam beberapa bulan. Jalan dapat diaspal kembali. Namun, budaya membutuhkan transgenerasi. Hilangnya budaya adalah kehilangan yang tidak mampu ditebus oleh anggaran berapa pun.
Aceh pernah membayar mahal hal ini setelah gelombang tsunami. Banyak ritual kecil hilang selamanya. Banyak tradisi berhenti di generasi tertentu. Banyak bahasa lokal tidak pernah diucapkan lagi. Banjir kali ini berpotensi mengulang tragedi yang sama bila tidak disikapi dengan kesadaran budaya.
Arnold Toynbee, dalam A Study of History, menegaskan bahwa suatu bangsa bertahan bukan karena tidak diuji, tetapi karena “mampu merespons tantangan dengan kreativitas peradaban.”
Banjir Aceh harus dibaca sebagai “challenge” dalam kerangka itu.
Pemulihan pascabencana tidak boleh dibatasi pada infrastruktur belaka. Yang jauh lebih penting adalah rekonstruksi budaya. Pemulihan meunasah harus dipandang sebagai pemulihan ruang budaya. Pendokumentasian tradisi lisan perlu menjadi bagian dari agenda pemulihan sosial. Keterampilan seni dan kriya harus mendapat ruang khusus agar tidak hilang. Ruang edukasi budaya di sekolah dan kampus harus diperkuat. Komunitas lokal perlu difasilitasi untuk menghidupkan kembali ritus yang terganggu.
Tanpa langkah ini, banjir akan surut, tetapi jejak budaya ikut surut. Rumah akan berdiri kembali, tetapi identitas tidak kembali.
Aceh adalah bangsa yang kuat. Namun, kekuatan itu tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kerentanan budaya.
Banjir telah meninggalkan luka yang terlihat. Tetapi pekerjaan yang jauh lebih berat adalah menyembuhkan luka yang tidak terlihat, hilangnya memori, ritus, pengetahuan lokal, dan seni yang tumbuh dari tanah Aceh sendiri.
Dalam konteks bencana kali ini, Aceh membutuhkan dua bentuk pemulihan sekaligus: pemulihan fisik dan pemulihan kultural.
Bangunan memang dapat selesai dalam hitungan hari atau bulan. Namun, budaya, sekali ia hilang, memerlukan waktu puluhan tahun untuk bisa kembali berdenyut.
Aceh dapat bangkit dari bencana ini. Akan tetapi, kebangkitan sejati hanya mungkin jika masyarakat, pemerintah, akademisi, dan komunitas budaya menyadari bahwa bencana tidak hanya merusak rumah, tetapi juga merusak cara hidup.
Maka, penting untuk menegaskan kembali, pemulihan Aceh harus berangkat dari kemauan kolektif menjaga budaya sebagai warisan yang tidak bisa diganti. Karena ketika budaya hilang, bangsa kehilangan jati diri.
Banjir akan surut. Infrastruktur akan pulih. Namun, budaya hanya akan hidup bila dijaga.
Pray for Aceh. Pray for its people. Pray for its memory, art, and culture yang juga sedang menunggu untuk diselamatkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ICHSAN-M-Sn-BARU-LAGIII.jpg)