Pojok Humam Hamid
Senyar Aceh 25, Gelap, dan Lilin-Lilin yang Kita Abaikan
ketika masyarakat Aceh sedang berjuang untuk sekadar bertahan, ruang publik nasional terbelah oleh amarah.
Oleh Ahmad Humam Hamid*)
Siklon Senyar menghantam Aceh seperti sebuah tamparan dari alam-keras, tiba-tiba, dan meninggalkan rasa perih yang tidak segera hilang.
Rumah-rumah rata dengan tanah, jembatan ambruk seperti mainan rapuh, dan ribuan keluarga berpindah dari satu tempat ke tempat lain mencari ruang aman yang mungkin tidak pernah benar-benar ada.
Anak-anak menangis di tenda pengungsian, orang tua menggigil kedinginan, dan ibu-ibu berusaha memasak dari bahan seadanya sambil bertanya-tanya bagaimana mereka akan melewati malam berikutnya.
Namun ketika masyarakat Aceh sedang berjuang untuk sekadar bertahan, ruang publik nasional terbelah oleh amarah.
Setiap orang merasa berhak menunjukkan siapa yang paling benar, siapa yang paling peduli, siapa yang paling lantang mengutuk kegelapan.
Padahal kegelapan tidak pernah terusir oleh kutukan.
Ia hanya pergi ketika kita menyalakan lilin.
Kita semakin sering melihat pola yang berulang: saat bencana datang, energi sosial kita justru banyak terserap dalam kemarahan-kemarahan terhadap pemerintah yang dianggap lamban, terhadap elite ekonomi yang dinilai abai, terhadap perusahaan-perusahaan yang dituduh merusak lingkungan, terhadap birokrasi yang tampak tidak bergerak, bahkan terhadap sesama masyarakat yang dianggap tidak peka.
Semua merasa perlu menunjukkan kemarahan, seolah kemarahan itu sendiri sudah cukup menjadi tindakan.
Tetapi Aceh yang porak-poranda hari ini tidak dapat diselamatkan oleh kemarahan.
Ini bukan berarti pemerintah tidak perlu dikritik.
Justru sebaliknya: kritik adalah bagian dari demokrasi, vitamin bagi negara.
Tetapi ketika seluruh energi publik hanya berkutat pada kemarahan, pada kecaman, pada pencarian kambing hitam, maka kita kehilangan energi moral untuk menyelamatkan manusia yang hari ini sedang bertarung untuk hidup.
Baca juga: VIDEO Bahlil Lapor Kondisi Listrik di Aceh ke Presiden Prabowo
Menguji Watak Bangsa
Senyar tidak hanya memporak-porandakan rumah dan infrastruktur.
Ia juga sedang menguji watak bangsa ini.
siklon senyar 2025
bencana siklon senyar
humam hamid aceh
pojok humam hamid
Serambi Indonesia
Serambinews
| Membaca Indonesia Hari Ini: Chairul Tanjung, Purbaya, dan Presiden Prabowo |
|
|---|
| Dolar Naik: Neraca Untung-Rugi Masyarakat Kawasan Pedesaan Kita |
|
|---|
| Prabowo dan The Economist: Indonesia dan Siklus Optimisme - Kewaspadaan Versi Media Internasional |
|
|---|
| JKA, Senyar, dan Otsus: Ujian Serius atau Kembali “Lagee Biasa”? |
|
|---|
| Tenaga Kerja Aceh: Dominasi Sektor Informal, TPT, dan Indikator Tak Sehat Lainnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Humam-Hamid-tanggapi-Benny-K-Harman.jpg)