Sabtu, 30 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Senyar Aceh 25, Gelap, dan Lilin-Lilin yang Kita Abaikan

ketika masyarakat Aceh sedang berjuang untuk sekadar bertahan, ruang publik nasional terbelah oleh amarah.

Tayang:
Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Pertanyaannya bukan lagi “di mana pemerintah?” atau “siapa yang salah?”. Pertanyaannya adalah:

Apakah kita akan mengulangi kebijaksanaan 2004 atau kita akan tenggelam dalam kemarahan tanpa arah?

Bagian paling politis dari bencana bukan soal siapa menteri yang turun, siapa pejabat yang datang, atau siapa elite yang membuat pernyataan. 

Bagian paling politis dari sebuah bencana adalah keputusan kolektif masyarakat dalam meresponsnya.

Kita sering terjebak dalam ilusi bahwa negara selalu siap. 

Fakta lapangan menunjukkan hal lain: tidak ada negara di dunia yang sepenuhnya siap menghadapi bencana besar. 

Jepang yang paling disiplin pun kewalahan di Tohoku. 

Amerika Serikat yang punya anggaran triliunan pun kalang kabut saat Katrina. 

Turki yang memiliki militer besar pun runtuh ketika gempa Izmit datang.

Jika negara-negara besar saja goyah, wajar bila negara kita juga mengalami keterlambatan atau kekurangan.

Ini Kritik Kepada Kita Semua

Namun bencana tidak menunggu kesiapan. 

Ia datang, menghancurkan, dan meninggalkan manusia menghadapi kenyataan yang pahit.

Karena itu, masyarakat sipil justru memegang kunci.

Ini bukan kritik kepada pemerintah. 

Ini kritik kepada kita semua: jangan serahkan seluruh beban kemanusiaan hanya kepada negara.

Jika kita hanya mengutuk pemerintah, kita membuat diri kita seperti penonton dalam tragedi yang menimpa saudara-saudara kita sendiri. 

Kita memperlakukan bencana seakan-akan itu bukan urusan kita. 

Kita lupa bahwa bantuan sekecil apa pun-beras satu kantong, sarung satu helai, listrik satu genset kecil-bisa mengubah kesedihan seseorang menjadi harapan.

Dan di sinilah letak politik yang sejati: pilihan untuk bertindak atau tidak bertindak adalah tindakan politik. 

Pilihan untuk menolong atau tidak menolong adalah keputusan moral yang dampaknya jauh lebih besar daripada perdebatan siapa yang harus disalahkan.

Hari ini di Aceh, ribuan keluarga tidak menunggu kemarahan kita. 

Mereka menunggu kehadiran kita. 

Ada anak kecil yang tidur berselimutkan udara dingin. 

Ada lansia yang sudah dua hari tidak makan cukup. 

Ada ibu yang menggigil karena hanya memakai pakaian basah. 

Ada keluarga yang menatap rumah tertimbun lumpur sampai  atap mereka sambil bertanya pelan, “Harus ke mana kami sekarang?”

Mereka tidak peduli siapa yang berdebat paling keras di televisi.

Mereka tidak peduli siapa yang menang dalam perang opini di media sosial.

Mereka tidak menunggu kicauan marah; mereka menunggu uluran tangan.

Setiap manusia yang sedang menderita hanya menunggu satu hal: seberkas cahaya.

Cahaya itu bisa berupa makanan, logistik, bantuan darurat, tenaga relawan, atau sekadar kesediaan untuk tidak menutup mata.

Kita terlalu sering menganggap bantuan harus besar. 

Padahal sejarah kemanusiaan dunia menunjukkan bahwa bencana sering dilawan oleh tindakan-tindakan kecil tetapi konsisten. 

Satu lilin mungkin tidak menerangi seluruh Aceh. 

Tetapi ribuan lilin-yang dinyalakan oleh ribuan orang biasa, bisa mengusir kegelapan.

Senyar tidak datang untuk menghancurkan Aceh. 

Senyar datang untuk mengingatkan kita siapa diri kita sebenarnya.

Kita bisa memilih menjadi bangsa yang hanya marah, atau bangsa yang menolong. 

Kita bisa memilih menjadi masyarakat yang hanya mengutuk, atau masyarakat yang menyalakan lilin.

Dan mari kita jujur: dunia tidak mengingat bangsa dari mana yang paling lantang marah, tetapi dari mana yang paling banyak menyalakan cahaya.

Hari ini Aceh butuh lilin-lilin itu lebih dari kapan pun. 

Bukan hanya lilin dari pemerintah, tetapi lilin dari rakyatnya, dari masyarakat Indonesia di luar Aceh, dari diaspora, dari komunitas kecil hingga besar. 

Lilin dari siapa saja yang menolak membiarkan gelap menang.

Kemarahan mungkin akan selalu ada. 

Tetapi mari kita putuskan bahwa kemarahan itu harus berubah menjadi kepedulian. 

Jika tidak, maka kita hanya menghasilkan suara tanpa cahaya.

Senyar telah menghadirkan kegelapan.

Kini tugas kita adalah menyalakan cahaya.

Dan cahaya itu ada pada kita semua.

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.

Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis.

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved