Sabtu, 30 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Senyar Aceh 25, Gelap, dan Lilin-Lilin yang Kita Abaikan

ketika masyarakat Aceh sedang berjuang untuk sekadar bertahan, ruang publik nasional terbelah oleh amarah.

Tayang:
Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Kemarahan memang ada, tetapi ia tidak mematikan solidaritas.

Begitu pula dengan Turki pada 1999 ketika gempa Izmit mengguncang kota besar itu. 

Birokrasi runtuh oleh kritik, tetapi masyarakat sipil bangkit spontan. 

Kelompok-kelompok kecil bergerak cepat, jauh lebih cepat dari negara. 

Mereka membentuk jaringan informal yang kemudian menjadi cikal-bakal sistem penanggulangan bencana modern Turki.

Baca juga: Cahaya dari Surya, Harapan Pengungsi Paloh Raya di Tengah Gelap Pascabanjir

Tidak Boleh Tumbang

Sejarah dunia menunjukkan pola yang jelas: negara boleh goyah ketika bencana datang, tetapi masyarakat sipil tidak boleh ikut tumbang.

Aceh sendiri pernah menunjukkan kebijaksanaan yang jauh lebih besar daripada yang kita kira. 

Tahun 2004, tsunami meratakan hampir seluruh garis pantai Aceh. 

Lebih dari 160.000 nyawa hilang. 

Tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan skala kehancuran saat itu.

Namun Aceh tidak runtuh oleh kemarahan. 

Ia bangkit oleh cinta, keberanian, dan solidaritas.

Anak-anak muda menjadi relawan, meunasah berubah menjadi pusat pengungsian, warga desa bahu-membahu memasak makanan untuk keluarga lain, dan dunia internasional datang membantu Aceh tanpa syarat. 

Di masa itu, Aceh mengirim pesan ke seluruh dunia: di tengah kehancuran total, kemanusiaan tetap bisa tumbuh.

Kini, Senyar menempatkan Aceh di persimpangan sejarah yang sama. 

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved